Selasa, 04 Januari 2011

PONPES DARUL QUR’AN AL JANNAH DARUSSALAM CARIU, “MENCETAK GENERASI QUR’ANI SEJAK DINI”


Ke manakah anak Anda akan melanjutkan studi setelah lulus SD? Anda tidak perlu bingung, karena Anda bisa menyalurkannya ke Ponpes Darul Qur’an Cariu untuk belajar menghafal al-Qur’an (tahfidz). Anda juga tidak repot-repot mengeluarkan biaya karena semuanya gratis alias mendapatkan beasiswa.

Jika Anda ingin ke Cianjur atau Bandung dari arah Jonggol, Anda pasti akan melewati jalan alternatif Cariu. Sepanjang jalan itu, di seberang, Anda pasti akan menemukan sebuah plang merah bertuliskan Pesantren Darul Qur’an. Nah, dari plang itu, Anda tinggal masuk ke kanan dan 100 m kemudian Anda akan menemukan lokasi pesantren tersebut.
Sekilas, Pesantren Darul Qur’an ini hampir mirip dengan pesantren serupa asuhan Ustadz Yusuf Mansur, yang terkenal dengan gagasan sedekahnya itu. Memang, pesantren ini tidak lain merupakan binaan pesantren Darul Qur’an milik Yusuf Mansur, tapi bukan cabangnya.
Kisahnya begini. Ada sebuah kelompok pengajian ibu-ibu di Cimanggis, Depok, yang merupakan pensiunan Bank Bumi Daerah (BBD). Mereka punya agenda sosial yang bagus, yaitu mengumpulkan uang setiap hari sebesar Rp. 500 dari masing-masing anggota dan keluarganya. Uang-uang ini, awalnya, dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan sosial, seperti santunan anak yatim dan kaum dhu’afa.
Pada perkembangannya, seiring dengan jumlah uang patungan mereka semakin banyak, timbul di benak mereka untuk melakukan sebuah tindakan yang lebih nyata, sehingga dikenang dan bisa dirasakan oleh orang banyak. Lalu, terpikirlah untuk membangun pesantren tahfidz al-Qur’an.
Mereka lalu menemui Ustadz Yusuf Mansur untuk merealisasikan rencana pendirian pesantren tahfidz al-Qur’an tersebut. Ustadz muda itu meresponnya dengan sangat positif. Akhirnya, dijalinlah sebuah kerja sama antara Pesantren Darul Qur’an milik Yusuf Mansur dengan pesantren Darul Qur’an milik ibu-ibu pengajian tersebut. Ponpes Darul Qur’an Yusuf Mansur menangani masalah manajemen dan sistem pendidikan, sedangkan Ponpes Darul Qur’an Cariu mengelola masalah biaya operasional dan pengembangannya.
Maka dibangunlah sebuah Pesantren Darul Qur’an Al-Jannah Darussalam di Perum Kp. Tegal Salam Blok 02 Rt. 22/07, Kel. Cariu, Kec. Cariu, Kab. Bogor, Jabar. Setelah itu, Pesantren Darul Qur’an Yusuf Mansur mengirim tenaga pengajarnya ke Pesantren Cariu ini dan begitu seterusnya. Artinya, selama Pesantren Cariu ini belum menuju kemandiriannya, baik SDM atau yang lainnya, pesantren ini terus mendapatkan binaan dari Pesantren Darul Qur’an milik Yusuf Manshur.
Kenapa harus pesantren tahfidz? Menurut Asep Supriatna (34 th), Sekretaris Pesantren, sebab al-Qur’an adalah akar kehidupan umat manusia (Islam) di dunia ini. Ketika akar ini kuat, maka yang lainnya pun ikut kuat. “Dengan semangat menghafal dan menghayati al-Qur’an, maka itu akan bisa merubah akhlak kita dan bagus juga buat perkembangan Islam,” ujarnya.
Hingga sekarang, Pesantren Cariu ini usianya belum genap dua tahun. Masih muda memang, tapi antusiasme anak-anak untuk belajar di sana ternyata sangat tinggi. Tahun pertama saja, anak-anak yang mendaftar sudah ratusan orang, tapi diseleksi menjadi 13 orang. Tujuan seleksi adalah agar bisa menemukan anak didik yang benar-benar serius untuk belajar al-Qur’an, tidak sekedar main-main. Sebab, sistem pendidikan (termasuk biaya hidup selama di pesantren) semuanya gratis.
Lalu, tahun kedua ada tambahan 14 anak. Mereka tetap merupakan anak-anak pilihan karena melalui seleksi yang cukup ketat. Mereka adalah lulusan-lulusan SD yang punya gairah tinggi untuk belajar al-Qur’an. Sehingga ketika mereka masuk ke pesantren Cariu ini, mereka tidak saja belajar ilmu agama, khususnya tahfidz al-Qur’an, tapi juga belajar ilmu umum di MTs –untuk kurikulumnya masih menginduk ke MTs Al-Nur Cariu.
Khusus untuk program tahfidz al-Qur’an, setiap anak diberikan target agar bisa menghafal al-Qur’an minimal 3 juz dalam waktu setahun. Jika tidak memenuhi target akan diberikan hukuman administratif. “Sekarang, kalau mereka melanggar baru dicukur kepalanya sampai caper atau botak,” ujar Asep. Sementara bagi yang memenuhi atau melebihi target akan diberikan reward berupa buku pelajaran dan sebagainya.
Misalnya saja Maulana Fahmi (13 th). Anak kelas dua MTs dan baru berada di pesantren selama 1,5 tahun ini, dia sudah menghafal 6 juz. Berarti, dia telah melampaui target. Artinya, kata Asep, ada sebagian anak yang mencapai atau melampaui terget, tapi ada juga yang gagal memenuhinya. “Jadi, seimbang,” ujarnya.
Pesantren Darul Qur’an Cariu berdiri di atas tanah 1000 m. Tanah sebelah kanan-kirinya masih kosong dan berbentuk kebun, jadi ada rencana untuk membelinya sebagai perluasan pesantren. “Dari pesantren sudah ada rencana, tinggal menunggu keikhlasan sang pemilik untuk menjualnya,” ujar Asep. Sebab, Pesantren yang kini dikelola oleh Ustadz Abdurrahman ini punya rencana besar ke depan untuk mencetak kader-kader penghafal al-Qur’an yang handal berkaliber internasional. Karena itu, sejak dini mereka harus sudah dilatih.
Selain itu, ke depan, anak-anak didik juga tidak saja diajarkan melulu tentang hafalan al-Qur’an, tapi juga ilmu-ilmu agama lainnya layaknya di pesantren, seperti ilmu tauhid, akhlak, fikih, bahasa Arab dan sebagainya. “Bahkan, ke depan, kami juga punya rencana untuk membangun pesantren wirausaha juga di sini,” ujar Asep yang juga lulusan Gontor tersebut. Sehingga, ujarnya, anak lulusannya nanti sudah siap secara mental dan mandiri ketika turun ke masyarakat.
Bagaimana dengan orang tua yang memiliki anak perempuan? Menurut Asep, untuk sementara Pesantren Darul Qur’an Cariu baru bisa menerima santri putra karena SDM dan sarananya masih terbatas. “Nanti, mungkin kalau sudah berkembang dan maju, akan menerima santri putri pula,” ujar lelaki yang sudah punya dua anak tersebut. “Jadi, doakan saja agar Pesantren Darul Qur’an ini cepat berkembang, sehingga santri putri pun bisa diterima di sini,” ujarnya lebih lanjut.

(Box)
Maulana Fahmi (13 th),
“Tertarik Karena Melihat Ustadz Yusuf Mansur di TV

“Saya pernah melihat Ustadz Yusuf Mansur di TV. Saat itu beliau bicara kalau anak-anak didiknya di pesantren Darul Qur’an semuanya gratis. Oleh bapak saya akhirnya dimasukkan ke sana dan ikut seleksi juga. Setelah lulus, saya dibawa ke Pesantren Darul Qur’an Cariu ini.”








Tidak ada komentar: