Selasa, 04 Januari 2011

ABU DIMYATHI, "TAREKAT NGAJI" ALA SUFI CIDAHU


Di Pulau Jawa –bahkan Indonesia, Abuya Dimyathi dikenal sebagai seorang sufi. Salah satu tarekat unik yang diajarkannya adalah “Tarekat Ngaji”. Sebuah tarekat yang mengajarkan kita betapa pentingnya untuk mengaji atau belajar agama.

KH. Muhammad Dimyathi bin KH. Muhammad Amin Al-Bantani, atau dikenal dengan Abuya Dimyathi atau Mbah Dim merupakan sosok ulama Banten yang sangat kharismatik dan bersahaja. Abuya sendiri adalah kata serapan yang berasal dari bahasa Arab yang maknanya sama dengan kata Syaikh, yang berarti orang yang dituakan karena keilmuan yang dimilikinya. Lebih spesifik lagi, kata Abuya berhubungan dengan dunia spiritual, di mana dia berperan sebagai pembimbing para murid dalam menjalani dunia tasawuf.
Abuya lahir sekitar tahun 1925 dari pasangan H. Amin dan Hj. Ruqayah. Beliau dikenal sangat haus akan ilmu. Karena itu, ia belajar ilmu agama pada banyak pesantren, mulai dari Pesantren Cadasari, Kadupeseng Pandeglang, Plamunan hingga Plered Cirebon.
Begitu cintanya beliau terhadap ilmu hingga setiap mendengar di suatu tempat ada seorang ulama yang berilmu tinggi maka tak segan-segan beliau belajar kepada ulama tersebut. Hal itu dapat terlihat dari banyaknya guru beliau. Di antaranya adalah Syaikh Abdul Halim Kalahan, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur)  Purwakarta, Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Rukyat Kaliwungu, serta Syaikh Ma’shum dan Syaikh Baidlowi Lasem. Kesemua guru tersebut bermuara pada Syekh Nawawi al-Bantany. Kata Abuya Dimyathi, para kiai sepuh tersebut memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna. Setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.
Sejak kecil Abuya sudah dikenal dengan kecerdasan dan kesalihannya. Ketika mondok di Watucongol misalnya, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada para santrinya bahwa besok akan datang ‘kitab banyak’. Yang dimaksudkan di sini adalah Abuya Dimyathi sendiri.
Hal ini terbukti karena saat mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Bahkan, di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’ dan mendapat gelar ‘Sulthon Aulia’, karena Abuya memang wira’i dan topo dunyo. Pada tiap pondok yang Abuya singgahi, selalu ada peningkatan santri mengaji dan ini satu bukti tersendiri di tiap daerah yang Abuya singgahi jadi terberkahi.
Semasa hidupnya, Abuya Dimyathi dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kiainya dari para kiai, sehingga tak berlebihan kalau disebut sebagai ulama Khas al-Khas atau rasikhah. Ulama yang sikapnya sehari-hari merupakan cerminan dari ilmu yang dikuasainya. Masyarakat Banten menjuluki beliau juga sebagai pakunya daerah Banten, di samping sebagai pakunya negara Indonesia. Di balik kemasyhuran nama Abuya, beliau adalah orang yang sederhana, bersahaja, wirangi (hati-hati dalam bicara, konsisten dalam perkataan dan perbuatan), ahli sedekah, puasa, makan seperlunya, dan humanis. Kalau melihat wajah beliau terasa ada perasaan ‘adem’ dan tenteram di hati.
Abuya adalah seorang qurra’ dengan lidah yang fasih. Wiridan al-Qur’an sudah istiqamah lebih dari 40 tahun. Kalau shalat tarawih di bulan puasa, tidak turun untuk sahur kecuali setelah mengkhatamkan al-Qur’an dalam shalat.
Abuya Dimyathi dikenal sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama. Beliau bukan saja mengajarkan ilmu syari’ah tetapi juga menjalankan kehidupan sufistik. Tarekat yang dianutnya adalah Naqsabandiyyah Qodiriyyah. Maka wajar jika dalam perilaku sehari-hari beliau penuh tawadhu’, istiqamah, zuhud, dan ikhlas.
Dalam buku Tiga Guru Sufi Tanah Jawa karya H. Murtadho Hadi, Abuya Dimyathi digolongkan bersama Syaikh Muslih bin Abdur Rahman al-Maraqi (Mranggen Demak) dan Syaikh Romli Tamim (Rejoso Jombang) sebagai tiga ulama sufi berpengaruh di Jawa. Bahkan, dalam buku Manaqib Abuya Cidahu (Dalam Pesona Langkah di Dua Alam), Abuya yang juga keturunan Sultan Maulana Hasanuddin dan Syarif Hidayatullah ini dikenal sebagai wali qutub.
Sebagai seorang sufi, Abuya mengajarkan jalan spiritual yang unik yaitu “tarekat ngaji”. Beliau secara tegas menyeru: “Thariqah aing mah ngaji!” (Jalan saya adalah ngaji). Sebab, tinggi rendahnya derajat keualamaan seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia memberi penghargaan terhadap ilmu. Sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Mujadilah ayat 11, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Dipertegas lagi dalam hadis nabi, al-Ulama’u waratsatul anbiya’, para ulama adalah pewaris para nabi.
Ngaji adalah sarana pewarisan ilmu. Ngaji adalah sebuah proses transformasi ilmu pengetahuan dari guru kepada murid. Melalui ngaji, sunnah dan keteladanan nabi diajarkan. Melalui ngaji, tradisi para sahabat dan tabi’in diwariskan. Hal ini sesuai dengan apa yang pernah dikatakan oleh Imam al-Ghazali bahwa orang-orang yang selalu belajar akan sangat dihormati. Semua pengetahuan yang tidak dilandasi ilmu pengetahuan pasti akan runtuh. Dan Ahmad Munir  berpendapat bahwa ilmu adalah suatu keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya.
Melihat begitu pentingnya ngaji ini, seakan-akan Abuya Dimyathi memberikan pengajaran kepada pembaca bahwa ngaji adalah asbabul futuh, kunci dari beberapa pintu. Maka bisa dikatakan bahwa orang yang tidak mau ngaji atau belajar adalah orang yang sombong. Merasa bisa dan mampu melakukan apapun tanpa ngaji atau belajar. Yang pada akhirnya akan mengakibatkan orang itu bukan malah mendekat kepada Allah tapi malah semakin jauh.
Satu hal yang sering disampaikan dan diingatkan Mbah Dim adalah: “Jangan sampai ngaji ditinggalkan karena kesibukan lain atau karena umur”. Pesan ini sering diulang-ulang, seolah-olah Mbah Dim ingin memberikan tekanan khusus; jangan sampai ngaji ditinggal meskipun dunia runtuh seribu kali. Apalagi demi sekedar hajatan partai. Urusan ngaji ini juga wajib ain hukumnya bagi putra-putri Mbah Dim untuk mengikutinya. Bahkan, ngaji tidak akan dimulai, fasal-fasal tidak akan dibuka, kecuali putra-putrinya hadir di dalam majlis.
Demikian pentingnya mengaji di mata Abuya Dimyathi, sehingga menjadi jalan spiritualnya untuk dekat kepada Allah. Abuya Dimyathi meninggal pada Malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 M/07 Sya’ban 1424 H, sekitar pukul 03:00 wib di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten dalam usia 78 tahun. Beliau meninggal di tengah hajatan pernikahan putra keempatnya. Sehingga, Banten ramai akan pengunjung yang ingin mengikuti acara resepsi pernikahan, sementara tidak sedikit masyarakat –pelayat- yang datang ke kediaman Abuya. Inilah merupakan kekuasaan Allah yang maha mengatur, menjalankan dua agenda besar, “pernikahan” dan “pemakaman”.
Semoga kisahnya bisa menjadi inspirasi bagi kita semua! Amien.

Eep Khunaefi/Dimuat di Hidayah edisi 114

Tidak ada komentar: