Senin, 11 Juni 2012

REMAJA GAME ONLINE


By Eep Khunaefi

Usai sekolah dan menyingsingkan seragamnya, ia langsung ke warnet untuk bermain game online

         
S
ebut saja namanya Andi. Anak SMA kelas 1 di sebuah SMK Muhammadiyah Bogor itu, termasuk keranjingan game online. Usai sekolah ia langsung membuka laptop kakak iparnya untuk kemudian mengaktifkan modem internet dan berselancar dengan game online. Game yang disukainya biasanya BookwormAdventures, Talismania atau TyperShark. Kadang juga ia bermain RF Online, Ayodance, DotA, Point Blank atau Audition.
          Bagi Andi, game online atau game lainnya, seperti garam dalam masakan. Tak ada garam, maka masakan jadi tidak enak. Begitu juga bagi dirinya, tak ber-game ria hidup terasa tidak sempurna. Jiwanya resah dan uring-uringan sepanjang hari. Kadang, saat laptop itu dibawa kakak iparnya ke kantor, ia memaksakan diri pergi ke warnet (warung internet), meski dengan uang seadanya.
          Lain halnya dengan Dendi, dia sama sekali tak suka game, apalagi game online. Kenal facebook atau twitter saja tidak. Kedua orang tuanya memang melarangnya untuk bermain internet. Tidak ada modem di rumahnya. Bagi Dendi, internet adalah “benda asing”, meski ia sendiri bisa mengoperasikan windows atau microsoft word dan mengenal laptop.
          Andi dan Dendi adalah dua sosok remaja yang sedang berkembang dan menemukan jati dirinya. Andi berkembang dengan dunia sosialnya sendiri, sementara Dendi dengan cara dan gayanya sendiri. Keduanya tampak berbeda dan bertolak belakang. Yang satu, keranjingan game online, sementara satunya lagi tidak suka sama sekali, bahkan tidak mengenalnya.
          Tipikal manakah yang cocok untuk remaja Islam masa kini dan masa depan? Dalam kasus pengenalan akan wawasan dunia internet dan game, saya pikir apa yang dilakukan oleh Andi adalah baik. Agar tidak ketinggalan dengan teman-temannya, ia bermain game online. Namun, dari sisi psikologis, tentu saja tidak baik karena ia termasuk dalam kategori keranjingan atau ketergantungan (adiktif). Jika game hanya dijadikan sebagai sesuatu yang iseng saja dan sekali-kali saja dimainkan mungkin akan berbeda ceritanya, tetapi ia sudah masuk dalam perangkap game itu. Ia yang ditaklukkan oleh game, bukan ia yang menaklukkannya. Jadi, untuk konsep remaja Islam yang ideal, tentu saja hal itu tidak baik.
Apa yang terjadi pada Andi ini persis seperti yang dikatakan oleh Paul C Saettler dari California State University, Sacramento, bahwa interaksi anak dan komputer yang bersifat satu (orang) menghadap satu (mesin) mengakibatkan anak menjadi tidak cerdas secara sosial. Begitu juga dengan Andi. Akibat ketergantungan pada game online, ia menjadi tidak mudah bergaul, karena waktunya banyak dihabiskan di dalam rumah atau ruangan warnet.
Tepat pula hasil riset Akio Mori, seorang professor dari Tokyo’s Nihon University, bahwa ketergantunganpada video game atau game online dapat menurunkan aktivitas gelombang otak depan yang memiliki peranan sangat penting, dengan pengendalian emosi dan agresivitas sehingga mereka cepat mengalami perubahan mood, seperti mudah marah, mengalami masalah dalam hubungan sosial, tidak konsentrasi, dan lain sebagainya. Dan Andi seringkali tidur hingga larut malam (melebihi jam 12) kalau sudah ber-game online, padahal besok paginya ia harus berangkat ke sekolah; dan itu membuat konsentrasi di sekolahnya buruk.
Sebab lainnya, kata Akio Mori, dapat mengakibatkan penurunan aktivitas gelombang beta. Dengan kata lain para gamer mengalami autonomic nerves, yaitu tubuh mengalami pengelabuan kondisi di mana sekresi adrenalin meningkat, sehingga denyut jantung, tekanan darah, dan kebutuhan oksigen terpacu untuk meningkat. Bila tubuh dalam keadaan seperti ini maka yang terjadi pada gamer adalah otak mereka merespon bahaya sesungguhnya.
          Lalu, bagaimana dengan Dendi? Usahanya untuk menghindari “jebakan negatif” dari sebuah game adalah baik. Apa yang dilakukannya oleh sang orang tua adalah sesuatu yang positif. Tetapi, jika hal itu membuatnya tidak mengenal sama sekali dunia internet, saya pikir sangat tidak bijak sekali. Sebab, dalam dunia sekarang, kita tidak mungkin bisa lepas dari internet. Dan Dendi, adalah sosok remaja yang tidak mengenal internet, apalagi game online. Jadi, apa yang dilakukannya juga tidak cocok untuk tipikal remaja Islam yang ideal.
          Lalu, bagaimana remaja Islam yang ideal itu? Dalam kasus kedua anak di atas, saya pikir Andi harus mengurangi kebiasaannya bermain game. Ia mulai merubah midnset-nya tentang game bahwa permainan ini sejatinya hanya untuk melepas rasa penat atau boring dari pelajaran sekolah. Sekedar tahu saja dan bermain sekedarnya, itu yang lebih baik. Bukan kemudian menjadikan game itu seperti sebuah tiang bagi rumah atau garam bagi masakan.
          Bagi Dendi sendiri, saatnya ia mulai mengenal internet meski tidak harus bermain game. Sebab, meski bagaimanapun, internet tak bisa ditinggalkan. Agar tidak terjebak dalam hal-hal negatif internet, bukan berarti kita harus meninggalkannya, tetapi harus sebisa mungkin menaklukkannya. Inilah salah satu tugas tersulit bagi kedua orang tua manapun.

Game Islami
Bagaimana kalau sang anak tidak bisa jauh dari game online karena sudah ketergantungan? Salah satu jalan adalah arahkan atau beri pengertian pada anak kita untuk mengalihkan game yang biasa ia lakukan kepada game yang bersifat Islami. Banyak sekali game Islami yang bisa dimainkan oleh anak remaja kita, seperti Islamic (Wordsearch puzzle 1), Prophets in Islam (Wordsearch puzzle), Islamic Coloring, Memory Game,  Masjid Illustration (16 piece jigsaw puzzle), Fix The Letter - Arabic Alphabet Puzzle, Arabic Alphabet Memory Game, islamic jigsaw puzzle 25 piece, Islamic Wallpaper 2, Masjid Qubbat As-Sakhrah (9 piece jigsaw puzzle), Islamic Quiz - General knowledge, Ramadan Wordsearch puzzle, dan sebagainya.
Dengan memainkan game Islami, maka anak remaja Anda akan mendapatkan dua keuntungan sekaligus: hobi main gamenya tersalurkan, tapi juga ilmu pengetahuan agamanya akan ia dapatkan. Sekali mendayung dua pulau terlampaui. Meski begitu, orang tua tetap harus bijak sehingga sang anak tidak perlu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain game Islami ini. Sebab, ada hal lain yang lebih utama dilakukan oleh anak remaja kita, yaitu membantu pekerjaan kedua orang tuanya di rumah, seperti menyapu, mengepel, atau mencuci piring. Atau juga, mengerjakan pekerjaan sekolah (PR) dan mengulang-ulang pelajaran yang didapatkannya dari guru. Dengan begitu, sang anak tidak kuper (kurang pergaulan), tetapi juga tetap berprestasi di kelas.
Untuk lebih jelasnya, Abdu Aziz Fauzan memberikan cara bagaimana mengatasi sang anak kita dari kecanduan terhadap game online, yaitu:
Pertama, niat. Dalam mengatasi kecanduan game online yang paling utama adalah niat yang kuat untuk mengurangi bermain game online secara berlebihan. Karena dengan niat yang kuat secara psikologis akan mempermudah dalam menghadapi hal tersebut.
Kedua, mencari kesibukan lain. Mencari kesibukan lain yang positif terutama kebiasaan yang disukai, seperti berolah raga, membaca buku atau berekreasi. Sehingga tidak ada waktu kosong untuk bermain game online.
Ketiga, mengatur jadwal bermain game online. Mengurangi waktu bermain dengan mulai menentukan jam dan hari bermain dan diusakan mematuhi jadwal tersebut. Untuk tahap awal, sehari bermain 3 jam dan untuk hari-hari berikutnya dikurangi sedikit demi sedikit.
Keempat, menghitung jumlah uang yang dikeluarkan. Dengan menghitung banyaknya uangnya yang dikeluarkan untuk bermain game online di warnet akan membuat seseorang lebih berpikir untuk tidak menghabiskan uangnya demi game online.
Kelima, meminta bantuan teman. Meminta orang terdekat untuk sementara menjadi pengingat setiap kali hendak ke warnet atau ingin bermain game. Akan sangat menarik apabila dia bukan seorang gamers juga.
Demikian beberapa cara agar anak kita tidak kecanduan game online. Kalaupun, harus terpaksa juga bermain game, maka arahkan sang anak pada game-game yang membuat dia memiliki tambahan ilmu agama.

Eep K. Yasin



Tidak ada komentar: