Sabtu, 16 Juni 2012

MATI DULU


Foto: yayansupriyatna.blogspot.com

 By Epholic

D
i sebuah Mushola, kami berbincang-bincang dengan seorang ustadz muda. Masih usia 30-an tahun, tapi ia sangat istiqamah dalam beribadah. Setiap hari bangun jam 03 malam untuk shalat tahajjud. Dia pun banyak mendapatkan berkah dan karamah karena kelebihannya ini.
Tetapi, saya sedang tidak membicarakan kelebihan dan karamahnya itu. Saya tergelitik dengan komentarnya saat mendengar pengaduan seseorang bahwa ada ustadz di seberang sana yang melarang tahlil dan doa buat arwah. “Doa kepada orang yang sudah mati tidak nyampai,” katanya.

Ustadz itu menjawab, “Kalau pengen tahu nyampai atau gak, dia harus mati dulu.”
Saya terkejut mendengar jawaban sang ustadz. Terus terang, saya baru kali itu mendengar jawaban demikian saat ada seseorang melarang tahlil dan doa kirim arwah dan sebagainya. Selama ini, selalu ayat al-Qur’an atau Hadits yang saya dengar. Saya tidak perlu menjelaskan di sini bunyi ayat-ayatnya atau haditsnya. Sebab, terlalu panjang untuk ditulis.
Tampaknya, ustadz itu menjawab demikian untuk menghindari polemik yang tak berkesudahan soal tahlil dan kirim doa buat arwah. Saya pikir jawabannya logis juga. Kalau orang itu tidak percaya bahwa doa kepada arwah itu tidak nyampai, ya cobalah ia mati dulu. Kalau sudah merasakannya, maka bisa balik lagi ke dunia. Tetapi, saya pikir ini sangat mustahil. Sebab, orang tidak mungkin coba-coba untuk mati dulu untuk mendapatkan kebenaran agama.
Maka, saya pun pamit pulang karena ada banyak kerjaan di rumah. Saya harus mengetik, sebab deadline sedang di depan mata. Saya pun berdiri dan ustadz muda itu pun mengikuti. Saya mematikan lampu dan ia pun melakukan hal yang sama. Tetapi, saat saya keluar dari pintu sebelah kiri mushola, ia malah kembali lagi ke dalam.
“Saya mau dzikir dulu sebentar,” ujarnya.
“Lha, kenapa tadi ikut bangun dan mesti dimatiin segala lampunya,” bisik saya dalam hati.
Mungkin ustadz muda itu juga sedang mengatakan “Mati Dulu” untuk sang listrik. Biarkan ia menyelami keagungan-Mu dulu dalam lembah dzikir. Biarkan kegelapan itu mengusap tubuhnya agar percikan-percikan berkah-Mu dapat ia rasakan.
Begitulah yang ia lakukan saban hari. Setiap kali shalat Isya berjamaah di mushola dan kebetulan kami bertemu, kami pun lanjutkan dengan obrolan. Lalu, saya pergi dan dia kembali melakukan aktivitasnya di mushola: berdzikir dan tadzkirah. Sosok ustadz muda, yang meski belum tua tetapi telah menemukan sebuah inti kehidupan Ilahiyah. Saya yang lebih tua darinya pun, terus belajar kepadanya bagaimana agar bisa istiqamah. Berkah buatnya, ya Allah!   

Tidak ada komentar: