Senin, 11 Juni 2012

DAN GUNUNG PUN BERGERAK




By Eep Khunaefi
Banyak yang mengira gunung itu diam seperti benda mati. Sesungguhnya dia juga bergerak layaknya manusia.

G
unung adalah sebuah bentuk tanah yang menonjol di atas wilayah sekitarnya. Sebuah gunung biasanya lebih tinggi dan curam dari sebuah bukit, tetapi ada kesamaaan, dan penggunaan sering tergantung dari adat lokal. Beberapa otoritas mendefinisikan gunung dengan puncak lebih dari besaran tertentu; misalnya, Encyclopædia Britannica membutuhkan ketinggian 2000 kaki (610 m) agar bisa didefinisikan sebagai gunung.
Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi gunung adalah "Bukit yangg sangat besar dan tinggi (biasanya tingginya lebih dari 600 m)."  Gunung paling tinggi di Indonesia adalah Jayawijaya berada di Papua.

Sebuah gunung biasanya terbentuk dari gerakan tektonik lempenggerakan orogenik atau gerakan epeirogenik. Pegunungan merupakan kumpulan atau barisan gunung.
Dalam bahasa daerah di Indonesia, Gunung memiliki beberapa nama, seperti Gunong, glee (Aceh), Deleng (Karo), Dolok (Batak), Bukit (Melayu, berarti gunung kecil), Pasir (Sunda), Igir, wagir, wukir, meru (Jawa), Bulu (Bugis), Keli (Flores), Nga (Papua pedalaman), dan Olet (Sumbawa).
          Menurut Profesor Siaveda, ahli geologi dari Jepang, perbedaan pokok antara gunung yang ada di benua dan gunung yang ada di samudera terletak pada bahannya. Gunung yang ada di benua pada dasarnya terbuat dari endapan, sedangkan gunung di samudera terbuat dari batu vulkanik. Gunung di benua terbentuk dari kekuatan tekanan, sedangkan gunung di samudera terbentuk dari kekuatan perpanjangan. Tetapi, di antara kedua gunung itu memiliki persamaan bahwa mereka mengakar untuk mendukung pegunungan. 
Gunung berfungsi sebagai pasak agar bumi tidak goyang. Sebab, konon dijelaskan bahwa saat alam semesta diciptakan, terjadi gempa bumi. Lalu Allah menciptakan gunung agar bumi tidak lagi goyah dan menjadi lebih kokoh. Dalam QS. An-Nahl (16): 15 disebutkan, Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” Dengan kata lain, fungsi gunung bagi bumi adalah sebagai pasak. Allah berfirman, “Dan gunung-gunung sebagai pasak.” (QS. An-Nahl [16]: 7) 
Gunung sebagai pasak bumi ini baru diakui oleh ilmuwan Barat beberapa puluh tahun kemudian. Salah satu pengakuan itu tertuang dalam sebuah buku berjudul Earth, sebuah buku yang dijadikan rujukan di banyak universitas di seluruh dunia. Salah seorang pengarangnya yang bernama Profesor Emeritus Frank Press, Penasehat Ilmu Pengetahuan dari mantan Presiden Amerika Jimmy Carter dan selama 12 tahun menjadi presiden dari National Academy of Sciences, Washington, DC, menyatakan bahwa gunung-gunung mempunyai akar di bawah mereka. Akar ini menghunjam dalam, sehingga seolah gunung-gunung mempunyai bentuk bagaikan pasak.
Akar gunung ini dapat mencapai kedalaman yang berlipat dari ketinggian mereka di atas permukaan tanah. Karena itu, gunung disebut sebagai “pasak” karena bagian terbesar dari sebuah pasak tersembunyi di dalam tanah. Dan pengetahuan semacam ini, tentang gunung-gunung yang memiliki akar yang dalam, baru diperkenalkan di paruh kedua dari abad ke-19.
Pertanyaannya: Apakah gunung itu diam atau bergerak? Sebelum al-Qur’an turun 15 abad yang lalu, mungkin kita tidak pernah menyangka bahwa sesungguhnya gunung itu tidak diam alias bergerak.  Sebelum itu hampir tidak kita temukan sebuah teks atau keterangan yang menjelaskan bahwa gunung itu bergerak setiap saat. Namun, kemudian Nabi Muhammad Saw. tampil dan menjelaskan kepada umat lewat ayat-ayat suci al-Qur’an yang menerangkan bahwa gunung yang sangka kita diam itu sesungguhnya bergerak.
Allah berfirman dalam QS. An-Naml (27) ayat 88, "Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
          Ayat di atas menjelaskan bahwa gunung pun bergerak setiap saat seperti pergerakan awan. Hanya saja kita tidak pernah mengetahui sebelum itu, kecuali setelah al-Qur’an turun menjelaskannya. Mengapa gunung bisa bergerak? Menurut Prof. Dr. Harun Yahya, gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat.
Meski begitu, beberapa puluh tahun usai al-Qur’an turun, tak ada satu pun ilmuwan Barat yang mencoba meneliti kebenaran ilmiah yang bersumber dari al-Qur’an tersebut. Barulah pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.
Pernyataan Wegener tersebut dituangkan dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915. Di situ diterangkan bahwa sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.
Namun, sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea ini terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.
Lebih lanjut Wegener menulis bahwa benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.
Demikian pengakuan Wegener tentang kemungkinan pergerakan gunung. Hanya saja, ucapan Alfred Wegener tersebut masih belum diakui kebenarannya oleh ilmuwan lain. Pada 1980, tepatnya 50 tahun setelah kematiannya, barulah ahli geologi baru bisa memahami kebenaran pernyataan Wegener.
Maka, pada 1985, Carolyn Sheets, Robert Gardner dan Samuel F. Howe pun mengakui dalam karya mereka demikian, “Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar.
Menurut Harun Yahya, pengakuan beberapa ilmuwan Barat akan continental drift (istilah untuk gerakan gunung) tersebut, secara tidak langsung menunjukkan sisi lain dari keajaiban al-Qur’an. Bahkan, disebutkan dalam sebuah hadits, pergerakan gunung ini disebabkan karena gunung juga sejatinya hidup. Di dalam sebuah kisah disebutkan bahwa saat Nabi Saw berada di Jabal Uhud, salah satu gunung terbesar di Madinah, bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khathab, tiba-tiba gunung tersebut terjadi goncangan kecil, maka beliau bersabda, “Wahai gunung, diamlah, di atasmu ada utusan Allah dan dua manusia utama.” Gempa itu pun berhenti. Bahkan, dalam kisah lain disebutkan bahwa gunung pun bisa berbicara. Maka, tak heran jika gunung pun bisa bergerak karena hakekatnya dia hidup seperti layaknya manusia. Wallahu a’lam bil shawab!

Eep Khunaefi






Tidak ada komentar: