Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Januari 2011

HABIB ANIS BIN ALWI ALHABSY;ULAMA DENGAN GELAR THE SMILLING HABIB


Senyum itu indah, bahkan bernilai ibadah karena bisa menyenangkan orang lain. Karena itulah, ulama yang dikenal habib ini dikenal suka mengumbar senyum kepada siapa saja. Maka, gelar the smilling habib pun melekat kepadanya.


Habib Anis lahir di Garut Jawa Barat, Indonesia, pada tanggal 5 Mei 1928 dari pasangan Habib Alwi dan Syarifah Khadijah. Ketika berumur 9 tahun, keluarga beliau pindah ke Solo. Setelah berpindah-pindah rumah di kota Solo, mereka menetap di Kampung Gurawan, Pasar Kliwon Solo.
Saat kecil, selain mendapatkan didikan dari sang ayah, Habib Anis juga pernah belajar di Madrasah Ar-Ribathah, yang juga berada di samping sekolahnya. Pada usia 22 tahun, beliau menikahi Syarifah Syifa binti Thaha Assagaf. Namun, tidak lama kemudian sang ayah meninggal dunia di Palembang, sehingga perannya sebagai seorang ulama pun digantikan Habib Anis. Karena peran inilah, Habib Anis sempat dianggap sebagai “anak muda yang berpakaian tua”. Usianya masih muda, tapi sudah memerankan vital sebagai seorang ustadz/kiayi, yang sepantasnya dilakukan oleh orang tua.
Setelah menggantikan posisi sang ayah di masyarakat, sehari-hari Habib Anis mengajar di zawiyah (pondokan) pada tengah hari. Selain itu, beliau juga sering menyelenggarakan haul dan pembacaan Maulid Simthuth-Durar karya kakeknya Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi di Masjid Ar-Riyadh. Dan setiap malam Jumat Legi diadakan “Pengajian Legian” dengan melibatkan masyarakat banyak.
Selain sebagai ustadz, Habis Anis muda pun pernah berdagang batik dan memiliki kios di Pasar Klewer, Solo, yang dijaga adiknya, Habib Ali. Namun karena kegiatan di Masjid Ar-Riyadh semakin banyak, usaha perdagangan batik dihentikan. Beliau lebih fokus pada usaha pengembangan ajaran Islam sebagai seorang ulama.
Habib Anis dikaruniai enam putera yaitu Habib Ali, Habib Husein, Habib Ahmad, Habib Alwi, Habib Hasan, dan Habib Abdillah. Semua putera beliau tinggal di sekitar Gurawan.
Di mata masyarakat Solo, Habib Anis dikenal sebagai ulama yang rendah hati (tawadhu) yang menganggap dirinya tidak berarti apa-apa. Meski berasal dari keluarga ahl al-bait, namun karakter beliau seperti orang Jawa. Beliau dikenal memiliki sifat Kromo Inggil, yaitu memperlakukan siapapun yang datang kepadanya, baik yang berpangkat atau tidak, dengan ramah layaknya saudara sendiri. Mereka dijamu dan diperlakukan dengan sepantasnya.
Sehari-hari beliau memiliki penampilan yang rapi dan dikenal sumeh (suka senyum). Senyumnya dikenal sangat manis dan menawan, sehingga beberapa orang menyebutnya sebagai The Smilling Habib (Habib yang Murah Senyum). Senyumnya yang khas mampu meluluhkan hati siapapun yang berjumpa dengannya. Beliau memiliki tahi lalat di dagu kanannya.
Selain murah senyum, beliau juga dikenal loman  (pemurah, suka memberi). Tukang becak yang sering mangkal di sekitar Masjid Wiropaten, tempat Habib Anis melaksanakan Shalat Jum’at, kerapkali mendapatkan sedekah dari beliau. Dan saat Hari Raya ‘Idul Adha tiba beliau kerapkali membagi-bagikan daging korban secara merata melalui RT sekitar Masjid Ar-Riyadh dan tidak membedakan Muslim atau non Muslim. Kalau dagingnya sisa, baru diberikan ke daerah lainnya.
Bahkan, menjelang Hari Raya Idul Fitri Habib Anis juga sering memberikan sarung secara cuma-cuma kepada para tetangga, muslim maupun non-muslim. “Beri mereka sarung meskipun saat ini mereka belum masuk Islam. Insya Allah suatu saat nanti dia akan teringat dan masuk Islam,” ujar Habib Anis suatu kali.
Beliau juga dikenal sangat sabar, santun, ucapannya halus, dan tidak pernah menyakiti hati orang lain apalagi membuatnya marah. Jika ada tetangga beliau atau handai taulan yang meninggal atau sakit, beliau tetap berusaha menyempatkan diri berkunjung atau bersilaturrahmi.
Habib Anis meninggal pada tanggal 6 November 2006 (14 Syawal 1427 H) pukul 12.55 WIB di RS. DR. Oen dalam usia 78 tahun karena penyakit jantung yang dideritanya. Sebelum meninggal beliau sempat beberapa kali pingsan. Kepergiannya menyebar begitu cepat, hingga ribuan orang datang untuk bertakziah ke rumahnya. Beliau dimakamkan di sebelah timur makam ayahnya di komplek Masjid al-Riyadh Solo.

“Paku Bumi” Bagian Tengah Indonesia
Sebagai ulama, Habib Anis menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengajar dan berbagi ilmu. Muridnya cukup banyak dan tersebar ke berbagai daerah. Orangnya istiqamah, sehingga menempatkannya pada maqam yang cukup tinggi di kalangan ulama. Atas dasar itulah, sebagian orang, kemudian menggadang-gadangnya sebagai “Paku Bumi” Indonesia bagian Tengah. Jika di Barat ada Al-Walid Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf (Bukit Duri Jakarta) dan di Timur ada Habib Syech bin Muhammad bin Husein Al-Idrus (Surabaya), maka di Tengah ada Habib Anis sendiri.
Di kalangan warga Solo, nama Habib Anis sangatlah tidak asing, mulai dari tukang becak hingga pejabat. Bahkan, beliau dikenal sangat “merakyat”. Beliau tidak segan-segan untuk naik becak dan bergaul dengan kalangan bawah. Maka tak heran sosok beliau begitu berkenan di hati Warga Solo. Hal ini ditambah oleh tutur katanya yang santun dan senyum manisnya yang selalu beliau umbar pada setiap orang yang ditemuinya.
Di mata Habib Jindan sendiri, Habib Anis adalah orang yang saleh. Bahkan, menurutnya, ketika mengiringi jenazah Habib Anis ke pamakaman sama saja beliau sedang mengantarkan seseorang ke surga. 
Kesalehan Habib Anis juga ditengarai dengan berbagai keanehan yang terjadi saat kematiannya. Konon, pada malam kematian Habib Anis, Habib Husein Mulachela (keponakan Habib Anis) seolah mencium bau harum minyak wangi yang selalu dipakai oleh almarhum di kamarnya. Habib Husein tahu betul cita rasa minyak wangi yang selalu dipakai oleh almarhum.
Sedangkan Habib Novel bin Muhammad Alaydrus, murid senior sekaligus cucu menantu Habib Anis mengatakan, bahwa maqam tinggi yang dimiliki Habib Anis didapatkan bukan karena berandai-andai atau duduk–duduk saja. Semua itu beliau peroleh setelah bertahun-tahun menanamkan cinta kepada Allah SWT, para shalihin dan kepada kaum muslimin umumnya.
Setidaknya, ada empat hal yang selalu disampaikan oleh Habib Anis kepada jama’ah setiap kali beliau mengadakan pengajaran di zawiyah-nya. Pertama, kalau engkau ingin mengetahui diriku, lihatlah rumahku dan masjidku. Masjid ini tempat aku beribadah mengabdi kepada Allah. Kedua, zawiyah, di situlah aku menggembleng akhlak jama’ah sesuai akhlak Nabi Muhammad SAW. Ketiga, kusediakan buku-buku lengkap di perpustakaan, tempat untuk menuntut ilmu.  Dan keempat, aku bangun bangunan megah. Di situ ada pertokoan, karena setiap muslim hendaknya bekerja. Hendaklah ia berusaha untuk mengembangkan dakwah Nabi Muhammad SAW.
Dari ajaran Habib Anis di atas nampak bahwa sebagai seorang pelakon sufi, beliau juga tidak meninggalkan duniawi dengan bekerja keras. Bahkan, kita masih ingat, bagaimana mudanya dulu beliau pernah berdagang batik. Hal ini, menunjukkan bahwa untuk menjadi seorang yang dicintai Allah tidak melulu harus beribadah, tapi juga sinkron dengan nilai-nilai material.
Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh Habib Anis adalah ketika beliau membaca Simthuth Durror. Suaranya yang khas mendayu seolah mampu menghipnotis jamaah dan menyentuh kalbu. Beliau kadang menangis saat membacannya, sehingga aura Rasulullah seolah-olah hadir di majlis tersebut. 
Dan hal yang unik dari pengajaran Habib Anis di pondokannya adalah pengajian kitab Imam al-Bukhari dijadikan sebagai wiridan. Bahkan, setiap tahun dalam bulan Rajab diadakan Khatmil Bukhari.

Eep Khunaefi/Dimuat Hidayah edisi 115


Selasa, 04 Januari 2011

SUNAN SENDANG DUWUR, "MEMINDAHKAN MASJID DALAM SEMALAM"


Namanya hampir terlupakan. Padahal, ia turut andil dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa.

Kisah tentang walisongo tak pernah lepas dari kesalehan dan kesaktian (karamah). Demikian pula yang dialami oleh sunan yang lain, Sunan Sendang Duwur. Sejarah mencatat bahwa beliau pernah memindahkan sebuah masjid dalam semalam  seperti yang dilakukan oleh Jin Ifrit pada masa Nabi Sulaiman, saat memindahkan istana Ratu Bilqis dalam sekejap.
Kini, masjid yang dipindahkan oleh Sunan Sendang Duwur tersebut masih berdiri kokoh hingga sekarang dan banyak didatangi oleh para peziarah untuk melakukan ibadah di sana.
Nama aslinya adalah Raden Noer Rahmad. Ia putra Abdul Kohar Bin Malik Bin Sultan Abu Yazid yang berasal dari Baghdad (lrak). Dilahirkan pada tahun 1320 M dan wafat pada tahun 1585 M. Bukti ini dapat dilihat pada pahatan yang terdapat di dinding makam beliau. Makamnya terletak di atas bukit. Dulu, tempat ini merupakan candi peninggalan agama Hindu. Relief-relief candi tidak berbentuk personifikasi lugas seperti yang ada di candi-candi yang lain, lebih halus dan ukirannya lembut.
Bangunan Makam Sunan Sendang Duwur sendiri memiliki arsitektur yang tinggi, yang menggambarkan perpaduan antara kebudayaan Islam dan Hindu. Bangunan gapura bagian luar berbentuk Tugu Bentar dan gapura bagian dalam berbentuk Paduraksa atau mirip Candi Bentar di Bali. Bentuk candi seperti ini telah dikenal sejak zaman Majapahit, seperti Gapura Jati Pasar dan Waringin Lawang. Sedangkan dinding penyangga cungkup makam dihiasi ukiran kayu jati yang bernilai seni tinggi dan sangat indah. Dua buah batu hitam berbentuk kepala Kala menghiasi kedua sisi dinding penyangga cungkup.
Makam Sunan terletak di Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran, Lamongan. Di kompleks yang sama, terdapat pula makam-makam para santri Sunan Sendang Duwur, yang hingga kini dikeramatkan masyarakat sekitar. Walaupun komplek makam terletak di dataran yang cukup tinggi, tetapi bisa dijangkau oleh kendaraan umum ataupun pribadi. Sarana jalan yang sudah baik dan memadai memudahkan para pengunjung yang ingin ke sana untuk berwisata ziarah.
Satu hal lagi, daerah di sekitar makam sunan sangat subur. Bangunan rumahnya cukup modern karena rata-rata pekerjaan mereka adalah pengrajin emas dan pemilik toko emas di beberapa daerah, terutama di Lamongan sendiri.

Boyong Masjid dalam Semalam
Terlepas dari segi arsitektur candi dan makam Sunan Sendang Duwur yang bernilai seni tinggi, sesungguhnya beliau telah menorehkan sejarah yang mengagumkan kepada umat Islam setelahnya. Konon, masjid kuno peninggalan sunan dibangun dengan cara yang aneh.
Kisahnya demikian. Setelah mendapatkan gelar Sunan Sendang Duwur dari Sunan Drajad, Raden Noer berharap bisa mendirikan masjid di Desa Sendang Duwur. Karena tidak mempunyai kayu, akhirnya beliau melapor kepada Sunan Drajad. Dan oleh Sunan Drajad, masalah ini disampaikan pula kepada Sunan Kalijogo yang mengarahkannya pada Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono di Mantingan, Jepara, yang saat itu mempunyai masjid.
Ratu Kalinyamat merupakan putri Sultan Trenggono dari Kraton Demak Bintoro. Suaminya bernama Raden Thoyib (Sultan Hadlirin Soho) cucu Raden Muchayat, Syech Sultan dari Aceh. Saat diangkat menjadi Bupati di Jepara, R. Thoyib tidak lupa berdakwah dan menyiarkan agama Islam. Sehingga dibangun masjid megah di wilayahnya pada 1531 Masehi. Banyak ulama dan kiai saat itu kagum terhadap keindahan dan kemegahan masjid tersebut.
Setelah itu Sunan Drajad memerintahkan Sunan Sendang Duwur pergi ke Jepara untuk menanyakan masjid tersebut. Mungkin untuk menanyakan tentang konstruksi bangunan masjid atau untuk menanyakan apakah masih ada kayu yang tersisa dari masjid tersebut yang bisa digunakan. Tapi apa kata Mbok Rondo Mantingan saat itu, “Hai anak bagus, mengertilah, aku tidak akan menjual masjid ini. Tapi suamiku (saat itu sudah meninggal, Red) berpesan, siapa saja yang bisa memboyong masjid ini seketika dalam keadaan utuh tanpa bantuan orang lain (dalam satu malam), masjid ini akan saya berikan secara cuma-cuma.”
Mendengar jawaban Mbok Rondo Mantingan, Sunan Sendang Duwur yang masih muda saat itu merasa tertantang. Sebagaimana yang diisyaratkan padanya dan tentunya dengan izin Allah, dalam waktu tidak lebih dari satu malam masjid tersebut berhasil diboyong ke bukit Amitunon, Desa Sendang Duwur. Entahlah, bagaimana caranya masjid itu bisa pindah? Tidak ada data yang jelas mengenai hal ini, apakah dipindahkan secara gaib karena karamahnya atau dengan cara yang lain?
Masjid Sendang Duwur pun berdiri di Bukit Amitunon, ditandai surya sengkala yang berbunyi: "gunaning seliro tirti hayu" yang menunjukkan angka tahun baru 1483 Saka atau Tahun 1561 Masehi.
Tapi cerita lain menuturkan, masjid tersebut dibawa rombongan (yang diperintah Sunan Drajad dan Sunan Sendang Duwur) melalui laut dari Mantingan menuju timur (Lamongan) dalam satu malam. Rombongan itu diminta mendarat di pantai penuh bebatuan mirip kodok (Tanjung Kodok) yang terletak di sebelah utara bukit Amitunon di Sendang Duwur.
Rombongan dari Mantingan itu disambut Sunan Drajad dan Sunan Sendang Duwur beserta pengikutnya. Sebelum meneruskan perjalanan membawa masjid ke bukit Amitunon, rombongan itu diminta istirahat karena lelah sehabis menunaikan tugas berat.
Saat istirahat, sunan menjamu rombongan dari Mantingan itu dengan kupat atau ketupat dan lepet serta legen, minuman khas daerah setempat. Berawal dari sini, sehingga setiap tahun di Tanjung Kodok (sekarang Wisata Bahari Lamongan) digelar upacara kupatan.
Dua kisah di atas semuanya sangat logis. Jika kita menganut pendapat yang pertama, maka kisah ini mirip dengan pindahnya istana Ratu Bilqis ke kerajaan Nabi Sulaiman oleh Jin Ifrit. Artinya, perpindahan bangunan ini terjadi secara gaib. Apakah kasus yang terjadi pada masjid Sunan Sendang Duwur ini pun demikian, yakni dipindahkan secara gaib. Wallahu a’lam bil shawab!
Namun, jika alasan kedua yang dipakai yaitu masjid tersebut digotong secara beramai-ramai, maka hal ini menunjukkan bahwa masjid tersebut masih berbentuk panggung. Sebab, jika tidak, rasanya sulit sekali bisa digotong. Sekali lagi, tidak ada data yang jelas menunjukkan akan hal ini. Namun, penulis sendiri, lebih meyakini pendapat yang pertama. Karena kalau kita berbicara masalah kewalian atau karamah, maka otomatis kita membicarakan kelebihan-kelebihan yang bersifat sufistik –yang kadang sulit dicerna oleh akal. Semua ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kedekatan yang kuat terhadap Allah SWT.
Selain itu, kata-kata dari Mbok Rondo Mantingan kepada Sunan Sendang Duwur bahwa masjid tersebut akan menjadi miliknya jika bisa dipindahkan dalam semalam tanpa bantuan orang lain, menunjukkan bahwa Sunan Sendang Duwur melakukan pekerjaannya itu sendirian. Kalau bekerja sendiri, rasanya sulit sekali jika hali tu dilakukan secara indrawi, kecuali dengan ilmu gaib.
Yang jelas, kini, masjid tersebut telah mengalami banyak renovasi karena usianya yang sudah tua. Beberapa konstruksi kayunya terpaksa diganti dan yang asli tetap disimpan di lokasi makam, di sekitar masjid. Meski direnov, arsitektur masjid peninggalan wali ini masih tampak dan menggambarkan kebesaran pada zamannya. Bangunan yang menunjukkan Hinduistis masih tampak di masjid dan makam.
Salah satu peninggalan Sunan yang lainnya yang masih tersisa adalah mimbar, bedug dan empat gentong berukuran besar yang didapat dari kerajaan Majapahit.
Meski halaman dan makam menyatu, masjid ini mempunyai halaman sendiri-sendiri. Pada bagian masjid sendiri terdapat tiga pintu masuk untuk bagian depan. Di setiap pintu masuk bertuliskan angka tahun. Pintu sebelah kanan misalnya bertuliskan angka 1421 Saka, pintu tengah 1339 Hijriyah bertulisan arab, dan pintu sebelah kiri bertuliskan angka 1920 Masehi saat masjid ini direnovasi.
Selain peninggalan masjid yang terkenal, salah satu hal yang tak terlupakan dari Sunan Sendang Duwur adalah ajarannya tentang "mlakuho dalan kang benar, ilingo wong kang sak burimu" (berjalanlah di jalan yang benar, dan ingatlah pada orang yang ada di belakangmu). Ajaran sunan ini dimaksudkan agar seseorang selalu berjalan di jalan yang benar dan kalau sudah mendapat kenikmatan, jangan lupa sedekah.
Ya, konsep sedekah ala Sunan Sendang Duwur ini kemudian dipraktekkan oleh orang-orang zaman sekarang, sehingga sekarang kita dengar tentang keajaiban sedekah, mukjizat sedekah dan sebagainya. Jauh sebelum ini, Sunan Sendang Duwur telah mengajarkannya dengan baik kepada para pengikutnya.
Demikian sebagian kisah singkat tentang Sunan Sendang Duwur. Perjalanan dakwahnya sebagai seorang sunan di Pulau Jawa hampir terlupakan oleh umat Islam sekarang ini. Kita seolah-olah hanya mengenal sembilan wali. Padahal, peranan Sunan Sendang Duwur dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa tak bisa dilupakan. Banyak jejak peninggalannya yang bisa kita lihat hingga sekarang, yang menunjukkan akan kiprahnya yang sangat besar dalam perkembangan Islam di Jawa.

Khunaefi, S.Thi/Dimuat Hidayah edisi 111

HR RASUNA SAID; ULAMA, PEJUANG, ORATOR DAN PENULIS PEREMPUAN MINANGKABAU


Sekilas, namanya seperti laki-laki, tapi sejatinya HR Rasuna Said adalah seorang perempuan sejati, yang gagah berjuang melawan penjajah dan orator yang tangguh. Kepintarannya dalam bidang agama juga membuatnya bergelar seorang ulama.

Hajjah Rangkayo (HR) Rasuna Said lahir pada 14 September (ada yang bilang tanggal 15 September) 1910 di Maninjau, Agam, Sumatera Barat. Meski demikian, tak gampang menemukan rumah kelahirannya yang telah dijadikan Mushola An Nur. Yang jelas, ayahnya, Muhamad Said, adalah pengusaha sukses di daerahnya. Setamat pendidikan dasar (SD), Rasuna Said melanjutkan belajar di Pesantren Ar-Rasyidiyah sebagai satu-satunya santri perempuan. Lalu ia melanjutkan pendidikan di Diniyah School Puteri di Padang Panjang, di bawah asuhan Zainuddin Labai el-Yunusi.
Setelah itu Rasuna belajar agama pada sastrawan dan pujangga ternama, pengarang tafsir al-Azhar, Dr Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), yang juga merupakan salah satu tokoh pembaru di Minangkabau. Ia pun sempat belajar di Sekolah Thawalib Maninjau selama dua tahun, di bawah asuhan Haji Udin Rahmani.
Di almamaternya, Diniyah School Putri, Rasuna pernah menjadi tenaga mengajar sebelum akhirnya berhenti karena keinginannya untuk memasukkan pendidikan politik dalam kurikulum di sekolah tersebut ditolak. Setelah itu ia lebih memilih perjuangan politik demi kemajuan kaum wanita.
Kesadarannya yang tinggi tentang kesetaraan gender serta kepeduliannya terhadap nasib bangsa membuatnya terlibat aktif dalam berbagai organisasi perjuangan. Ia memulai aktivitas organisasinya di Sarekat Rakyat sebagai Sekretaris Cabang. Tahun 1930, Rasuna ikut mendirikan Persatoean Moeslimin Indonesia (Permi), sebuah organisasi perjuangan. Lewat organisasi ini, ia juga turut mendirikan berbagai sekolah di pelosok-pelosok Sumatera Barat. Sebuah Kursus Putri di Bukittinggi pun sempat dipimpinnya.
Rasuna juga dikenal sebagai orator dan aktivis yang gigih menentang penjajahan Belanda. Karena pidatonya sangat tajam terhadap pemerintah Belanda, ia ditangkap dan dipenjara di Semarang (1932). Ia menjadi perempuan pertama yang dijerat pasal Speek Delict, yaitu hukum kolonial Belanda yang dapat menghukum siapapun yang berbicara keras menentang Belanda tahun 1932.
Setelah dibebaskan, Rasuna Said kembali ke Sumatera Barat dan aktif dalam bidang pendidikan dengan mendirikan Sekolah Thawalib, Sekolah Kursus Putri di Padang. Lalu pindah ke Medan dan mendirikan Perguruan Puteri serta terlibat aktif dalam jurnalisme untuk menyuarakan gagasan-gagasannya tentang kemerdekaan dan kesetaraan perempuan. Ia sempat menerbitkan majalah Menara Putri, yang khusus membahas seputar pentingnya peran wanita, kesetaraan antara pria wanita dan keislaman serta menjadi pemimpin redaksi Majalah Raya.
Pada masa pendudukan Jepang, beliau ikut serta sebagai pendiri organisasi “Pemuda Nippon Raya” di Padang, menggembleng para pemuda agar berjuang untuk memperoleh kemerdekaan tanah air dan bangsa. Organisasi ini dibubarkan oleh Pemerintah Jepang.
Setelah kemerdekaan, Rasuna menjadi anggota Dewan Perwakilan Sumatera, mewakili daerah Sumatera Barat. Kemudian ia terpilih sebagai anggota DPR-RIS di tahun 1950-an. Pada 1959, Rasuna diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) hingga akhir hayatnya, 2 November 1965. Karena jasa-jasanya, Rasuna dimakamkan di TMP Kalibata Jakarta. Pada tanggal 13 Desember 1974, beliau diangkat sebagai pahlawan nasional dengan Surat Keputusan Presiden R.I. No. 084/TK/Tahun 1974.
H.R. Rasuna Said meninggalkan seorang putri (Auda Zaschkya Duski) dan 6 cucu (Kurnia Tiara Agusta, Anugerah Mutia Rusda, Moh. Ibrahim, Moh. Yusuf, Rommel Abdillah dan Natasha Quratul'Ain). Namanya sekarang diabadikan sebagai salah satu nama jalan protokol di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Inspirasi Kaum Perempuan
Seperti halnya RA Kartini dan Dwi Sartika, aktivitas dan perjuangan Rasuna juga patut mendapatkan apresiasi dan sejatinya bisa menjadi inspirasi bagi perempuan selanjutnya. Emansipasi wanita yang ia tegakkan sebagai bagian dari upayanya untuk menegakkan kesetaraan gender yang selama beberapa dekade berada dalam kekuasaan patriarkhi. Karena itu, ada beberapa hal yang mesti kita pahami dari sepak terjang Rasuna Said.
Pertama, Rasuna merupakan simbol perempuan pejuang, yang tidak saja pandai bicara (orator) tapi juga seorang organisatoris. Hal itu, ia tunjukkan dengan terlibat dalam banyak kegiatan perjuangan dan sekolah-sekolah.
Satu hal lagi, bahwa Rasuna juga seorang penulis. Terbukti, ia mampu mendirikan majalah Menara Putri dan berperan sebagai seorang pemimpin redaksi pada Majalah Raya. Dengan kemampuannya ini, praktis beliau adalah seorang multi talenta. Sayangnya, tidak ada data yang menunjukkan akan karya-karyanya yang dibukukan seperti yang dilakukan oleh gurunya, Hamka.
Kedua, beliau adalah seorang penganut idealisme yang kuat. Terbukti, untuk mewujudkan kebebasan negeri ini dari tangan penjajah Belanda dan Jepang serta tegaknya emansipasi wanita, ia rela dipenjara. Padahal, sejatinya, seorang wanita lebih sering berada di rumah mengurus keluarga. Tapi, ia berani keluar dan berjuang menentang kekerasan dan ketidakadilan. Dan terbukti, penjara telah gagal meruntuhkan tekad perjuangannya. Setelah keluar dari hotel prodeo, ia tetap berdakwah baik sebagai pejuang maupun pendidik.
Ketiga, eksistensinya di Dewan Perwakilan Sumatera dan anggota DPR-RIS juga menjadi autokritik terhadap perempuan lain yang memiliki posisi yang sama. Ia memperlihatkan kepada kaum perempuan bahwa untuk menjadi seorang dewan itu tidak harus menjual pesona kecantikan semata, tapi juga kelebihan intelektual. Hal ini kadang berbeda dengan yang terjadi sekarang, seperti masuknya beberapa kalangan selebritis wanita ke dewan. Tanpa punya latar belakang perjuangan politik yang kuat, dia justru bisa diterima di dewan karena pesona kecantikannya atau ketenarannya.
Masih banyak lagi yang bisa dipelejari dari sosok Rasuna. Karena berbagai kelebihannya itu, pantas jika beliau diberikan gelar pahlawan dan dijadikan nama jalan protokoler di Jakarta. Semoga ia menjadi insipirasi bagi kaum perempuan berikutnya! Amien.

Eep K/Dimuat di Hidayah edisi 113



ABU DIMYATHI, "TAREKAT NGAJI" ALA SUFI CIDAHU


Di Pulau Jawa –bahkan Indonesia, Abuya Dimyathi dikenal sebagai seorang sufi. Salah satu tarekat unik yang diajarkannya adalah “Tarekat Ngaji”. Sebuah tarekat yang mengajarkan kita betapa pentingnya untuk mengaji atau belajar agama.

KH. Muhammad Dimyathi bin KH. Muhammad Amin Al-Bantani, atau dikenal dengan Abuya Dimyathi atau Mbah Dim merupakan sosok ulama Banten yang sangat kharismatik dan bersahaja. Abuya sendiri adalah kata serapan yang berasal dari bahasa Arab yang maknanya sama dengan kata Syaikh, yang berarti orang yang dituakan karena keilmuan yang dimilikinya. Lebih spesifik lagi, kata Abuya berhubungan dengan dunia spiritual, di mana dia berperan sebagai pembimbing para murid dalam menjalani dunia tasawuf.
Abuya lahir sekitar tahun 1925 dari pasangan H. Amin dan Hj. Ruqayah. Beliau dikenal sangat haus akan ilmu. Karena itu, ia belajar ilmu agama pada banyak pesantren, mulai dari Pesantren Cadasari, Kadupeseng Pandeglang, Plamunan hingga Plered Cirebon.
Begitu cintanya beliau terhadap ilmu hingga setiap mendengar di suatu tempat ada seorang ulama yang berilmu tinggi maka tak segan-segan beliau belajar kepada ulama tersebut. Hal itu dapat terlihat dari banyaknya guru beliau. Di antaranya adalah Syaikh Abdul Halim Kalahan, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur)  Purwakarta, Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Rukyat Kaliwungu, serta Syaikh Ma’shum dan Syaikh Baidlowi Lasem. Kesemua guru tersebut bermuara pada Syekh Nawawi al-Bantany. Kata Abuya Dimyathi, para kiai sepuh tersebut memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna. Setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.
Sejak kecil Abuya sudah dikenal dengan kecerdasan dan kesalihannya. Ketika mondok di Watucongol misalnya, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada para santrinya bahwa besok akan datang ‘kitab banyak’. Yang dimaksudkan di sini adalah Abuya Dimyathi sendiri.
Hal ini terbukti karena saat mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Bahkan, di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’ dan mendapat gelar ‘Sulthon Aulia’, karena Abuya memang wira’i dan topo dunyo. Pada tiap pondok yang Abuya singgahi, selalu ada peningkatan santri mengaji dan ini satu bukti tersendiri di tiap daerah yang Abuya singgahi jadi terberkahi.
Semasa hidupnya, Abuya Dimyathi dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kiainya dari para kiai, sehingga tak berlebihan kalau disebut sebagai ulama Khas al-Khas atau rasikhah. Ulama yang sikapnya sehari-hari merupakan cerminan dari ilmu yang dikuasainya. Masyarakat Banten menjuluki beliau juga sebagai pakunya daerah Banten, di samping sebagai pakunya negara Indonesia. Di balik kemasyhuran nama Abuya, beliau adalah orang yang sederhana, bersahaja, wirangi (hati-hati dalam bicara, konsisten dalam perkataan dan perbuatan), ahli sedekah, puasa, makan seperlunya, dan humanis. Kalau melihat wajah beliau terasa ada perasaan ‘adem’ dan tenteram di hati.
Abuya adalah seorang qurra’ dengan lidah yang fasih. Wiridan al-Qur’an sudah istiqamah lebih dari 40 tahun. Kalau shalat tarawih di bulan puasa, tidak turun untuk sahur kecuali setelah mengkhatamkan al-Qur’an dalam shalat.
Abuya Dimyathi dikenal sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama. Beliau bukan saja mengajarkan ilmu syari’ah tetapi juga menjalankan kehidupan sufistik. Tarekat yang dianutnya adalah Naqsabandiyyah Qodiriyyah. Maka wajar jika dalam perilaku sehari-hari beliau penuh tawadhu’, istiqamah, zuhud, dan ikhlas.
Dalam buku Tiga Guru Sufi Tanah Jawa karya H. Murtadho Hadi, Abuya Dimyathi digolongkan bersama Syaikh Muslih bin Abdur Rahman al-Maraqi (Mranggen Demak) dan Syaikh Romli Tamim (Rejoso Jombang) sebagai tiga ulama sufi berpengaruh di Jawa. Bahkan, dalam buku Manaqib Abuya Cidahu (Dalam Pesona Langkah di Dua Alam), Abuya yang juga keturunan Sultan Maulana Hasanuddin dan Syarif Hidayatullah ini dikenal sebagai wali qutub.
Sebagai seorang sufi, Abuya mengajarkan jalan spiritual yang unik yaitu “tarekat ngaji”. Beliau secara tegas menyeru: “Thariqah aing mah ngaji!” (Jalan saya adalah ngaji). Sebab, tinggi rendahnya derajat keualamaan seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia memberi penghargaan terhadap ilmu. Sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Mujadilah ayat 11, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Dipertegas lagi dalam hadis nabi, al-Ulama’u waratsatul anbiya’, para ulama adalah pewaris para nabi.
Ngaji adalah sarana pewarisan ilmu. Ngaji adalah sebuah proses transformasi ilmu pengetahuan dari guru kepada murid. Melalui ngaji, sunnah dan keteladanan nabi diajarkan. Melalui ngaji, tradisi para sahabat dan tabi’in diwariskan. Hal ini sesuai dengan apa yang pernah dikatakan oleh Imam al-Ghazali bahwa orang-orang yang selalu belajar akan sangat dihormati. Semua pengetahuan yang tidak dilandasi ilmu pengetahuan pasti akan runtuh. Dan Ahmad Munir  berpendapat bahwa ilmu adalah suatu keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya.
Melihat begitu pentingnya ngaji ini, seakan-akan Abuya Dimyathi memberikan pengajaran kepada pembaca bahwa ngaji adalah asbabul futuh, kunci dari beberapa pintu. Maka bisa dikatakan bahwa orang yang tidak mau ngaji atau belajar adalah orang yang sombong. Merasa bisa dan mampu melakukan apapun tanpa ngaji atau belajar. Yang pada akhirnya akan mengakibatkan orang itu bukan malah mendekat kepada Allah tapi malah semakin jauh.
Satu hal yang sering disampaikan dan diingatkan Mbah Dim adalah: “Jangan sampai ngaji ditinggalkan karena kesibukan lain atau karena umur”. Pesan ini sering diulang-ulang, seolah-olah Mbah Dim ingin memberikan tekanan khusus; jangan sampai ngaji ditinggal meskipun dunia runtuh seribu kali. Apalagi demi sekedar hajatan partai. Urusan ngaji ini juga wajib ain hukumnya bagi putra-putri Mbah Dim untuk mengikutinya. Bahkan, ngaji tidak akan dimulai, fasal-fasal tidak akan dibuka, kecuali putra-putrinya hadir di dalam majlis.
Demikian pentingnya mengaji di mata Abuya Dimyathi, sehingga menjadi jalan spiritualnya untuk dekat kepada Allah. Abuya Dimyathi meninggal pada Malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 M/07 Sya’ban 1424 H, sekitar pukul 03:00 wib di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten dalam usia 78 tahun. Beliau meninggal di tengah hajatan pernikahan putra keempatnya. Sehingga, Banten ramai akan pengunjung yang ingin mengikuti acara resepsi pernikahan, sementara tidak sedikit masyarakat –pelayat- yang datang ke kediaman Abuya. Inilah merupakan kekuasaan Allah yang maha mengatur, menjalankan dua agenda besar, “pernikahan” dan “pemakaman”.
Semoga kisahnya bisa menjadi inspirasi bagi kita semua! Amien.

Eep Khunaefi/Dimuat di Hidayah edisi 114