Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juni 2012

KISAH SUKSES PENGUSAHA BAKERY



Banyak cara dilakukan orang agar usahanya sukses. Bagi Bapak Supriyanto, kunci sukses usahanya adalah sedekah.
By Epholic

E
nam belas tahun bekerja di Astra ternyata tidak cukup memuaskan dirinya. Padahal, ia sudah berusaha untuk kuliah D3 dan S1 di STIE Jayakarta Salemba jurusan Akuntansi dengan tujuan agar karirnya meningkat. Namun, berkali-kali ia coba mengajukan permohonan agar karirnya meningkat sebanyak itu pula ia mengalami kegagalan. Ia tetap menjadi staf akuntansi. Akhirnya, ia pun banting setir menjadi konsultan hukum di sebuah perusahaan yang telah didirikannya bersama temannya saat ia masih bekerja di Astra. Perusahaan bernama PT. Java Mitra Mandiri yang bermarkas di Mampang ini lebih membenahi sistem managemen ISO.
Namun, otak bisnis Bapak Supriyanto (42 th) rupanya membawanya pada keinginan yang lain. Ia ingin bisnis (dagang), sesuatu hal yang sebenarnya sudah ia lakoni sejak masih bekerja di Astra. Saat itu, ia kadang nyambi jualan payung, kaos, MLM, dan sebagainya. “Pernah juga jualan di pinggir jalan di Klapagading selama seminggu,” ujarnya. “Enggak tahu saya kok gak maluan,” katanya lebih lanjut. Setelah memutar otaknya, akhirnya ia pun membuka bisnis bidang pendidikan (TK) di Bogor. Namun, belum saja TK itu dibuka ia tiba-tiba sakit keras. “Saat itu saya sedang di tol dalam perjalanan menuju TK,” ujarnya. Di tengah jalan itulah, tiba-tiba ia merasa diserang oleh sesuatu yang membuat badannya sakit (panas).

Kamis, 31 Mei 2012

SUKA KAWIN HILANG DI MAKKAH


By Eep Khunaefi

Menikah itu sunnah Rasul. Bagaimana jika ia melakukannya berkali-kali? Nasib sial pun menimpanya saat naik haji

S
ebut saja namanya Kakek Rasidin. Dipanggil kakek karena usianya sudah menginjak kepala 6, tepatnya 66 tahun. Selama itu ia telah berkali-kali menikah. Tercatat, sudah 9 kali ia melakukannya. Yang menjadi korban selalu istri ketiga dan keempat. Ya, Kakek Rasidin memiliki empat orang istri (poligami). Nah, ketika ia hendak nikah lagi, maka istri ketiga atau keempatnya yang dikorbankan atau diceraikan. Hal itu terus ia lakukan hingga 9 kali pernikahannya.
Entahlah, apa yang ada dalam pikiran Kakek Rasidin! Semakin tua kian menjadi. Maksudnya, semakin bertambah usia kelakuannya kian menjadi tidak benar. Ia begitu mudah tergoda dengan wanita muda baik itu janda maupun perawan. Herannya pula, perempuan-perempuan itu mau saja dinikahi oleh Kakek Rasidin. Mungkin karena ia punya kharisma. Mungkin pula karena hartanya yang cukup banyak.

BERKAH MENGHAJIKAN KEDUA ORANG TUA


By Eep Khunaefi

Setelah menghajikan ayah, dia pun bisa menikah

I
ni sebuah kisah tentang bakti anak pada kedua orang tuanya. Anggap saja sebagai sedekah anak kepada ayahnya yang ingin naik haji. Sebut saja namanya Bapak Yakub Usuli, orang Gorontalo. Dia masih lajang saat itu, usianya sekitar 32 tahun. Sebagai anak muda hidupnya cukup sukses. Terbukti, ia bisa mengumpulkan uang sebanyak 30 juta. Rencananya, uang ini ia persiapkan untuk menikah kelak –kalau sudah ada jodohnya. Atau, ia niatkan untuk berangkat ibadah haji.
Namun, entahlah, hal apa yang merasuk ke dalam pikiran Yakub saat itu. Yang jelas, saat melihat usia ayahnya yang sudah sepuh (71 th) tiba-tiba saja niatnya berubah. Ada sebuah niat yang sangat mulia dalam pikirannya ingin membahagiakan sang ayah di usia senjanya. Apa itu? Ia ingin memberangkatkan ayah ke tanah suci. Ini benar-benar sebuah niat yang sangat mulia.

Jumat, 12 Agustus 2011

KGS ABU BAKAR HAMID (64 TH), “3 Bulan di Kapal, di Tengah Terjangan Peluru”


Dibanding zaman sekarang, orang dahulu penuh susah payah untuk bisa berangkat haji. Sebab, dulu masih pakai kapal laut sehingga harus berbulan-bulan berada di tengah laut. Belum lagi, berbagai aral yang menghadang, seperti yang dialami oleh bapak yang satu ini.

Sebut saja namanya Kgs Abu Bakar Hamid. Namanya mengingatkan kita pada Khalifah Islam yang pertama, Abu Bakar al-Shiddiq. Tapi, dia hanyalah orang biasa, bukan pejabat atau anak keturunan darah biru. Profesinya hanyalah seorang petani kelapa yang diolahnya menjadi kopra. Namun, jangan salah, dia memiliki beberapa anak buah yang membantu pekerjaannya itu.
Sebagai seorang petani kepala, sebenarnya usia Abu Bakar saat itu masih terlalu muda, yaitu anak SMA. Namun, jiwa petani yang ditanamkan orang tua sejak kecil ikut menenggelamkannya pada dunia perkebunan (tani-menani) tersebut. Dari hasil kebunnya ini, kehidupan Abu Bakar dan keluarganya pun cukup bahagia dan mapan. Maklum, pohon-pohon kelapanya sangat banyak dan berdiri di atas lahan puluhan hektar. Bisnis ini kepunyaan keluarganya.

ISMAIL,“Kematian Ayah dan Durhakanya Anak, Membuatnya Bertaubat”


Banyak hal yang membuat seseorang berubah. Salah satunya adalah persoalan rumah tangga dan anak. Demikian pula yang dialami oleh kakek yang satu ini. 

      Sehari-hari dipanggil Ismail. Usianya sudah cukup tua, 62 th. Meski begitu, ia masih tampak bersemangat dan segar bugar. Rahasianya adalah mengabdi pada Tuhan seikhlas-ikhlasnya.
      Ya, lelaki yang sehari-hari dipanggil pak haji meski tak pernah pergi ke Mekkah ini, memiliki pengalaman yang sangat getir sebelum ia memutuskan diri untuk tinggal di masjid dan menghabiskan sisa hidupnya dengan beribadah dan mengurus tempat ibadah tersebut.
      Sebagai anak seorang tentara, saat remaja dan muda, Ismail terbilang sangat bandel. Belum saja sekolah SMA rampung ia sudah menikah dengan wanita pujaannya. Namun, belum lama rumah tangga dirajutnya ia malah sudah bersenang-senang dengan perempuan lain (berselingkuh). Parahnya, hal itu dilakukannya di depan sang istri.

Jumat, 01 April 2011

WJ PRAKOSO (42 th), “Berkah Sedekah, Setengah Bulan Bekerja Naik Jabatan”

“Sedekah terbaik adalah ketika kondisi kita sedang tak berpunya. Sebab, pada saat itulah keikhlasan hati kita dalam beramal saleh benar-benar diuji Allah.” 

      Tiga belas tahun telah berlalu. Pak WJ merasa bahwa sudah saatnya ia harus resign (mengundurkan diri) dari pekerjaannya sebagai seorang leader (pemimpin) di sebuah perusahaan air minum di Pasuruan, Jatim. Ia ingin fokus pada usaha yang baru dirintisnya yaitu dagang peralatan listrik.
      Niat ini pun disampaikan Pak WJ pada pimpinannya. Sang pimpinan tentu saja terkejut dengan keputusan lelaki berdarah Jawa tersebut. Apalagi, dia telah bekerja selama 13 tahun di perusahaannya dan selama ini sangat bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Namun, niat tulusnya akhirnya tak bisa dihadang. Maka sang pimpinan pun merelakan resign Pak WJ.

JANIN MENGHILANG KARENA MURTAD


Adakah kaitan antara kemurtadan dengan musibah Tuhan? Sangat ada. Sebab, murtad adalah perbuatan yang dilaknat Allah. Karena itu, Tuhan pun menimpakan cobaan atas pelakunya. 

      Cinta, orang tua dan Allah adalah tiga hal yang tidak bisa dipisahkan bila kita berbicara masalah asmara. Karena itu, sejatinya, ketika seseorang sedang dilanda asmara hendaklah minta restu pada kedua orang tua untuk mendapatkan ridha Allah.
      Namun, kisah berikut ini justru sebaliknya. Demi cintanya pada seorang lelaki, ia rela meninggalkan kedua orang tua dan murtad kepada Allah. Sebuah tindakan yang sangat tidak patut ditiru, karena pasti akan mendapatkan murka Allah jika tidak sempat bertaubat.
      Sebut saja namanya Ida. Dia sebenarnya wanita yang baik, awalnya. Karena kedua orang tua mendidiknya dengan penuh perhatian sejak kecil. Bahkan, bangku kuliah pun sempat diecapnya, meski tidak terlalu berprestasi di kelas.

HAJJAH KENGKONG KARENA SUMPAH PALSU


Dia bersumpah kengkong (kaya stroke) kalau tidak makan harta suaminya. Ternyata, saat ibadah haji, tangannya tiba-tiba kengkong. Mungkinkah ia termakan sumpahnya sendiri? 

      Abidah, begitu orang-orang memanggilnya. Dia adalah janda manis dengan satu anak. Di usianya yang belum terlalu tua, 40 th, Abidah pun berharap akan mendapatkan suami lagi setelah menjadi janda 3 tahun yang lalu. Sang suami meninggal karena kecelakaan tragis di jalan raya. Motor yang dikendarainya tersenggol mobil dan akhirnya dia terjatuh. Apesnya, dari arah yang lain datang mobil truk menggilas tubuhnya; dan dia pun meninggal di tempat. Tapi, adakah lelaki yang mau menikahinya karena ia memiliki seorang anak lelaki?
      Waktu berjalan dan Abidah pun terus menjalani profesinya sebagai pedagang pakaian door to door. Rupanya keinginan Abidah untuk menikah lagi tidak bertepuk sebelah tangan. Romli, tiba-tiba datang ingin melamarnya. Lelaki kaya raya ini tidak segan-segan datang langsung ke rumah janda itu dan lalu berniat meminangnya. Abidah tidak langsung

SEDEKAH 20 RIBU DAPAT PROYEK 20 JUTA



“Ketika nestapa melandanya, ia justru berjiwa besar mau menolong sahabat yang membutuhkan pertolongannya.”

Pagi hari kala itu, cuaca tampak cerah. Seorang mahasiswa tampak sedang memasak air dengan termos listrik. Suatu rutinitas yang biasa dilakukan lelaki berusia 23 tahun itu setiap hari. Sambil menunggu air mendidih, ia pun keluar dari kostnya untuk membeli koran. Sebagai mahasiswa, Andika, memang termasuk orang yang gemar membaca. Jarak dari kostnya dengan lapak koran cukup jauh dan ia tidak menyadari bahwa kondisi berbahaya sewaktu-waktu akan mengintainya.
Usai 300 meter Andika berjalan, ia pun sudah sampai di lapak koran. Lalu ia meraih sebuah koran ternama di Indonesia dan segera kembali lagi ke kostnya usai membayar. Saat itu ia masih menyadari bahwa ia sedang memasak air. Namun, di tengah jalan, ia bertemu seorang sahabat dan mengajaknya ngobrol. Ketika itu ia masih ingat kalau ia sedang masak air, karena itu ia pun segera menutup obrolannya dengan sang sahabat.

Kamis, 27 Januari 2011

SOICHIRO HONDA: "Lihat Kegagalan Saya"

Pengalaman adalah guru yang paling brutal dan kejam.
Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas, sehingga layak dijuluki “raja jalanan”.
Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri “kerajaan” Honda – Soichiro Honda – diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru. “Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda,” tutur tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengindap lever. Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun ia trus bermimpi dan bermimpi…
Kecintaannya kepada mesin, mungkin ‘warisan’ dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin menyaksikan pesawat terbang.
Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri.
Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.
Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama.
Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel.
Kuliah karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah – pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah.
“Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya,” ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan.
Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali.
Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.
Akhirnya, tahun 1947,setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, “sepeda motor” – cikal bakal lahirnya mobil Honda – itu diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok.
Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi “raja” jalanan dunia, termasuk Indonesia. Soichiro Honda mengatakan, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. “Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya”, tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru dan berusahalah untuk merubah mimpi itu menjadi kenyataan.
Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari keluarga miskin. Jadi buat apa kita putus asa bersusah hati merenungi nasib dan kegagalan. Tetaplah tegar dan teruslah berusaha, lihatlah Honda sang ”Raja” jalanan.
5 Resep keberhasilan Honda:
1. Selalulah berambisi dan berjiwa muda.
2. Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru, khususkan waktu memperbaiki produksi.
3. Senangilah pekerjaan Anda dan usahakan buat kondisi kerja Anda senyaman mungkin.
4. Carilah irama kerja yang lancar dan harmonis.
5. Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja sama.

Senin, 24 Januari 2011

NAIK HAJI BERKAT TAHAJJUD

Postingan saya kali untuk berbagi pengamalan. Pengalaman ringan dan tak masuk akal. Tapi kenyataan itulah yang saya alami ketika masih bermukim di kota Merauke – Papua.

Ketika itu saya telah beristri dan memiliki dua orang anak. Saya tinggal didaerah mayoritas non muslim. Tetangga disebelah kiri dan kanan juga bukan muslim. Kehidupan saya juga terbilang tidak stabil. Kami hidup jauh dari kehidupan kedua orang tua. Baik orang tua saya maupun kedua orang tua istri saya. Kehidupan dalam keluarga pas-pasan. Bahkan dibawah pas-pasan.

Selasa, 04 Januari 2011

KEKUATAN DOA MEMBAWAKU KE TANAH SUCI


“Sebelum mengirim undian, ia shalat dan berdoa dulu kepada Allah. Demikian yang ia lakukan setiap saat.”

Ya, doa adalah sebuah entitas yang sangat urgen. Dengan berdoa, kita akan mendapatkan kekuatan dan keberkahan dari Allah. Dengan berdoa pula, kita akan menjadi hamba Allah yang paling beruntung di dunia.
Itulah yang dirasakan oleh Hajar A. Salam, SH. Perempuan muda (36), yang sehari-hari menjalani profesinya sebagai ibu rumah tangga dan sekali-kali membantu sang suami di klinik. Baginya, doa sangat penting dalam hidup ini. Doa bisa membuat hidupnya bertambah berkah. Doa bisa membuatnya lebih percaya diri. Dan doa pula, yang membuat keinginannya dikabulkan oleh Tuhan. Sebuah keinginan yang juga diinginkan oleh umat Islam pada umumnya, yaitu pergi ke tanah suci.

TAK BISA MELIHAT KA’BAH


“Dia pikir akan bisa melihat Ka’bah dengan mudahnya, tapi kenyatannya, pandangannya seolah tertutup oleh kabut…”

Ini sebuah kisah tentang kesombongan dan keangkuhan seorang pedagang sukses. Dia merasa perjuangannya untuk menjadi orang kaya karena kerja kerasnya. Dia melupakan Tuhan sebagai Sang Pemberi, sehingga menutup mata batinnya untuk mengasihi orang miskin.
Sebut saja namanya H. Karna (disamarkan). Sebagai anak lelaki satu-satunya dari lima bersaudara, Karna kecil termasuk hidup dalam kondisi yang sangat sederhana. Sang bapak hanya pekerja serabutan, sedang ibu sekedar ibu rumah tangga.