Tampilkan postingan dengan label Ponpes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ponpes. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Agustus 2011

Ponpes Darussalam, "SPIRIT GONTOR SANG PENDIRI"


Ada beberapa pesantren di Indonesia yang kerapkali menjadi kiblat bagi pesantren-pesantren yang lain. Misalnya, pesantren Gontor dengan sistem bilingual (dua bahasa)-nya dan Pesantren Lirboyo dengan kitab kuningnya. Kedua sistem ini punya kelebihan dan kelemahan. Dan pesantren Darussalam di Natar, Lampung Selatan, mencoba mengambil sistem yang ada di Gontor ini. 

      Semuanya bermula pada 1970-an, saat KH. Ali Rajamarga menyantrenkan anaknya (KH. Rolip Ali) di Pesantren Darussalam Gontor yang ada di Jawa Timur. Melihat sistem pendidikan yang diajarkan di Gontor sangat bagus, yaitu menekankan bahasa Arab dan Inggris (bilingual) dalam percakapan sehari-hari para santri, maka hal ini mengusik batin beliau untuk mendirikan hal serupa di Lampung.
      Sebagai pengusaha kopi dan cengkeh yang tak pernah sekolah, KH. Ali Rajamarga yang sudah almarhum ini tak perlu berpikir panjang untuk mewujudkan rencana ini. Dengan uang yang cukup di tangan, maka beliau pun segera membuka lahan untuk pendirian pesantren dengan nama serupa, yaitu Darussalam, berlokasi di Jl. Lintas Sumatera Km.30-31, Banjar Negeri Natar, Lampung Selatan. Kini, pesantren telah memiliki lahan 14 hektar. Hanya 4 hektar yang digunakan untuk lembaga pendidikan pesantren dan sisanya ditanami pohon Sengon, yang banyak berdiri di sisi-sisi jalan menuju pesantren.
      Sebagai pesantren yang terinspirasi dari sistem Gontor Jawa Timur, otomatis sistem pendidikan yang diterapkan di Darussalam Lampung ini pun sama. Yaitu, setiap hari para santri diwajibkan untuk berbicara bahasa Arab dan Inggris. Jika tidak, mereka akan dikenakan sanksi administratif berupa membersihkan water closed (WC), halaman pesantren dan sebagainya.
      Dalam perjalanannya, ternyata Pesantren Darussalam Lampung ini pun cukup berhasil. Terbukti, banyak orang tua yang ingin menyantrenkan anaknya di pesantren ini. Sejak tahun 1974-1987 (masa-masa awal), pesantren rata-rata menerima 750 anak tiap angkatan. Lalu, meningkat lagi pada 1987-1998 yang merupakan masa keemasan, yaitu 3000 santri. Sejak itu, pesantren ini pun seolah menjadi trandmark pesantren modern di Lampung.
      Cobalah Anda lihat bangunan-bangunan yang cukup megah dan asri Pesantren Darussalam, maka santri pun seolah semakin termanjakan dengan situasi sosial dan sistem pendidikan yang ada. Maka, tidak heran, jika santri yang belajar di sini banyak yang datang dari penjuru daerah, tidak saja dari daerah Lampung tapi juga dari daerah Jawa, dan sebagainya.
      Pada masa puncaknya, pesantren ini kerapkali dikunjungi para pejabat, mentri, para hakim, anggota dewan, staf ahli dan para ulama dari berbagai penjuru Indonesia. Bahkan, duta besar dari negara-negara sahabat juga kerapkali datang ke tempat ini, untuk meninjau dan menjalin persahabatan.
      Ya, secara sosial maupun edukasi, pesantren Darussalam telah memberikan dampak positif yang sangat banyak, tidak saja buat lingkungan sekitar, yaitu daerah Natar, tapi juga daerah-daerah di sekitarnya. Setidaknya iklim religius telah terbentuk di lingkungan sekitar pesantren.
      Namun, memasuki tahun 1998-sekarang pesantren ini pun mengalami perubahan yang cukup signifikan. Tantangan globalisasi yang semakin akut, rupanya ikut dirasakan juga oleh pesantren ini. Tampaknya, pilihan orang tua yang lebih senang memasukkan anak-anaknya kepada lembaga-lembaga pendidikan formal, rupanya ikut berpengaruh pada perkembangan pesantren ini. Lambat laun, santri yang belajar di pesantren ini pun semakin berkurang; dan itu juga dirasakan oleh pesantren-pesantren lainnya di Indonesia. Namun, justru, pada saat bersamaan kita kerapkali melihat pesantren-pesantren baru bermunculan yang menawarkan sesuatu yang baru, seperti pesantren wirausaha dan sebagainya.
      Bagi Drs. Amin Effendi, AM, ini adalah tantangan terbesar yang dihadapi pesantren, khususnya pesantren Darussalam. “Setelah saya denger dari berbagai kiayi pesantren, ternyata masalahnya sama. Pesantren memang sedang dihadapkan pada tantangan yang serius akibat globalisasi. Jadi, kita harus pandai-pandai untuk menyesuaikan diri,” ujar lelaki yang tampak bersahaja ini.
      Meski begitu, lelaki yang juga menjadi pengasuh pesantren ini, tetap akan berusaha semaksimal mungkin untuk memajukan ini. “Bukan berarti ketika sedang merosot, lalu kita tinggalkan. Kan kita juga niatnya untuk beribadah kepada Allah,” ujar sosok yang sudah bergabung dengan pesantren sejak awal keberadaannya ini kalem.
      Dalam sistem pendidikannya, pesantren ini memadukan dua kurikulum: kurikulum Depag dan kurikulum pondok. Masa belajar yang ditempuh santri adalah 6 tahun (MTsN dan MAN), yang dinamakan pesantren dengan istilah Kulliyatul Mu'allimin Mu'allimat Al-Islamiyah (KMI). Jadi, setelah santri tamat dari pendidikan, mereka akan mendapatkan 3 ijazah sekaligus: MTsN, MAN dan KMI. 
      Selain itu, di pesantren juga diadakan pendidikan untuk Raudhatul Athfal Darussalam (RAD) dan Madrasah Ibtidaiyah Darussalam (MID). Bahkan, sebelumnya, pesantren juga pernah menyelenggarakan lembaga pendidikan tinggi yang bernama STAID (Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam). Lembaga perguruan tinggi ini sempat beberapa kali meluluskan mahasiswa dan mahasiswinya. Namun, karena beberapa hal, sementara STAID ditiadakan dulu.
      Kini, menurut Drs. Amin Effendi, AM, pesantren terus berbenah diri agar selalu bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman, terutama agar tidak kehilangan atau ditinggalkan oleh santri. Yang jelas, satu hal yang menjadi prinsip pesantren adalah tetap mempertahankan sekolah agama, bukan sekolah umum semacam SMP atau SMA, seperti yang pernah diusulkan oleh berbagai pihak. Semoga pesantren yang berdiri karena spirit Gontor dalam diri sang pendirinya ini, terus eksis di tengah-tengah masyarakat! Amien.

Selasa, 04 Januari 2011

Pesantren Darul Ma’arif, "KAMPUS HIJAU DI TENGAH STIGMA NEGATIF"


Stigma negatif kerapkali menghinggapi Indramayu, mulai dari pemasok tenaga kerja ke luar negeri hingga pekerja seks komersil di perkotaan. Namun, dengan berdirinya Pesantren Darul Ma’arif atau lebih dikenal Kampus Hijau di daerah Kaplongan, Karangampel, Indramayu ini, berharap stigma negatif tersebut berangsur hilang.

Dinamakan Kampus Hijau karena hampir 100 persen, corak bangunan di pesantren ini berwarna hijau seperti warna khas NU. Memang, pesantren ini merupakan lembaga pendidikan NU. Yang mendirikan adalah orang yang aktif di organisasi PBNU Pusat, H. Dedi Wahidi. Di PBNU Pusat, beliau membidani masalah pesantren dan madrasah.
Jika Anda memasuki pesantren ini, setelah pintu gapura yang berdiri gagah dan megah, Anda akan disuguhkan pemandangan foto-foto para pendiri dan penggerak NU di pajang di pagar sebelah kiri seperti foto KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. Ali Ma’sum, KH. Ahmad Shidiq, KH. Ilyas Ruhiyat, KH. A. Sahal Mahfudz, KH. Idam Khalid, KH. Abdurrahman Wahid dan KH. Hasyim Muzadi. “Model pesantren semacam ini di kalangan pesantren NU, mungkin baru di sini satu-satunya,” ujar Abu Ya –panggilan akrab KH. Mukromin Thohir.
Apa makna di balik pemasangan foto-foto tersebut? Menurut Abu Ya, pengasuh pesantren Darul Ma’arif yang juga mahir berbahasa Arab ‘amiyah (pasaran) ini, semata-mata agar kita tidak lupa pada masa lalu. Agar kita selalu ingat pada founding father (pendiri) dari organisasi NU.
Ya, Kampus Hijau ini semacam representasi dari sebuah pesantren elit NU yang terorganisir, gagah dan sangat modern yang ada di Indramayu. Kenapa demikian? Jika Anda memasuki area pesantren, Anda akan disuguhkan sebuah bangunan sekolah yang spektakuler dan indah, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, dan SMK. Tampaknya, untuk membangun semuanya itu dibutuhkan dana milyaran rupiah. Karena itu, Muktamar NU yang akan datang diadakan di Kampus Hijau ini.
Sistem pendidikan di Pesantren Darul Ma’arif menggabungkan antara sistem salafi dan modern. Sistem salafinya terletak pada masih diajarkannya berbagai kitab klasik yang khas diajarkan di pesantren-pesantren tradisional, seperti Bulughul Maram, Al-Jurumiyah, Alfiyah, dan sebagainya. Sementara modern-nya, salah satunya, pesantren ini menerapkan sistem wirausaha dan berbicara bahasa Arab dan Inggris setiap hari. Salah satu usaha yang baru diterapkan di sini adalah ternak sapi, yang sekarang jumlahnya sekitar 36 ekor.
Untuk pangan sapi-sapi itu sendiri, yaitu rumput gajah, dihasilkan dari kebun pesantren, yang dikelola oleh para santri. Selain sapi, pesantren juga menyediakan pembibitan ikan.
Yang jelas, pesantren Darul Ma’arif merupakan salah satu proyek besar organisasi NU dalam menyelenggarakan sistem pendidikan modern. Diharapkan keberadaan pesantren ini, tidak saja membuat organisasi NU terlihat semakin modern dalam sistem pendidikannya, tapi juga memberikan efek positif bagi warga Indramayu khususnya. Diharapkan kualitas-kualitas warga Indramayu semakin membaik, tidak saja ilmu umumnya, tapi juga ilmu agamanya.
Kini, sudah sekitar 19 hektar tanah yang dipakai untuk lahan pesantren dari target sekitar 50 hektar. “Semuanya karena kebutuhan zaman,” ujar Abu Ya, yang merupakan asli Kaplongan.
Kebutuhan zaman di sini maksudnya adalah bahwa sudah saatnya pesantren membenahi diri dengan sistem pendidikan modern. Sebab, beberapa pesantren klasik yang ada sekarang sudah mulai ditinggalkan oleh para santrinya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, bahwa sistem pendidikan modern harus diterapkan di pesantren. Untuk itu, Pesantren Darul Ma’arif menerapkan sistem pendidikan modern dalam ajarannya.
Tujuan pesantren tersebut terlihat dari misi yang selama ini selalu digembar-gemborkan, yaitu mewujudkan lembaga pendidikan termaju dan mitra terdepan bagi dunia usaha atau dunia industri serta menghasilkan tamatan berstandar Internasional pada tahun 2012 yang dilandasi akhlakul karimah.
Dari 19 hektar tersebut dipergunakan untuk lahan TK PAUD NU (berdiri 2003) sebesar 5000 m2, lahan SD NU (berdiri 2008) sebesar 25.000 m2, SMP NU (berdiri 1983) sebesar 25.000 m2, SMA NU (berdiri 1996) sebesar 25.000 m2, SMK NU (berdiri 2002) sebesar 25.000 m2, lahan pesantren, lahan peternakan, lahan masjid, lahan asrama, lahan aula dan sebagainya. Untuk bangunan perguruan tinggi sendiri, tanahnya telah tersedia dan menunggu proses pembangunan.
Santri yang belajar di sini dipastikan akan merasa nyaman. Sebab, tidak saja pendidikannya yang modern, bangunannya yang megah, tapi juga alam pemandangannya yang indah. Jika kita jalan-jalan mengitari pesantren, hampir sepanjang sisi jalan yang kita lalui ditanam berbagai pepohonan yang rindang daunnya dan berwarna hijau. Hal ini semakin menguatkan klaim pesantren sebagai Kampus Hijau.
Aktivitas santri di sini cukup sibuk dari pagi hingga larut malam. Yang jelas, setiap malam Jum’at (habis Maghrib) diadakan tahlilan dan habis Isya-nya membaca berzanji serta belajar berpidato. Sejauh ini, santri-santrinya telah berdatangan dari daerah Jakarta, Bogor, Ciledug, Cirebon, Subang, dan tentunya daerah Indramayu sendiri.
Kini, di tengah usianya yang belum lama, pesantren terus melakukan pembangunan dan pembenahan. Saat Hidayah datang ke sana, terlihat beberapa pekerja sedang membangun kantin pesantren dan bangunan yang lainnya. Semoga sesuai julukannya sebagai Kampus Hijau, ke depan pesantren ini bisa menghijaukan hati-hati umat Islam dunia, khususnya Indramayu, sehingga mereka merasa damai dan sejahtera. Amien ya Rabbal ‘Alamien!

Khunaefi, S.Thi/Dimuat Hidayah edisi 111





PONPES DARUL QUR’AN AL JANNAH DARUSSALAM CARIU, “MENCETAK GENERASI QUR’ANI SEJAK DINI”


Ke manakah anak Anda akan melanjutkan studi setelah lulus SD? Anda tidak perlu bingung, karena Anda bisa menyalurkannya ke Ponpes Darul Qur’an Cariu untuk belajar menghafal al-Qur’an (tahfidz). Anda juga tidak repot-repot mengeluarkan biaya karena semuanya gratis alias mendapatkan beasiswa.

Jika Anda ingin ke Cianjur atau Bandung dari arah Jonggol, Anda pasti akan melewati jalan alternatif Cariu. Sepanjang jalan itu, di seberang, Anda pasti akan menemukan sebuah plang merah bertuliskan Pesantren Darul Qur’an. Nah, dari plang itu, Anda tinggal masuk ke kanan dan 100 m kemudian Anda akan menemukan lokasi pesantren tersebut.
Sekilas, Pesantren Darul Qur’an ini hampir mirip dengan pesantren serupa asuhan Ustadz Yusuf Mansur, yang terkenal dengan gagasan sedekahnya itu. Memang, pesantren ini tidak lain merupakan binaan pesantren Darul Qur’an milik Yusuf Mansur, tapi bukan cabangnya.
Kisahnya begini. Ada sebuah kelompok pengajian ibu-ibu di Cimanggis, Depok, yang merupakan pensiunan Bank Bumi Daerah (BBD). Mereka punya agenda sosial yang bagus, yaitu mengumpulkan uang setiap hari sebesar Rp. 500 dari masing-masing anggota dan keluarganya. Uang-uang ini, awalnya, dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan sosial, seperti santunan anak yatim dan kaum dhu’afa.
Pada perkembangannya, seiring dengan jumlah uang patungan mereka semakin banyak, timbul di benak mereka untuk melakukan sebuah tindakan yang lebih nyata, sehingga dikenang dan bisa dirasakan oleh orang banyak. Lalu, terpikirlah untuk membangun pesantren tahfidz al-Qur’an.
Mereka lalu menemui Ustadz Yusuf Mansur untuk merealisasikan rencana pendirian pesantren tahfidz al-Qur’an tersebut. Ustadz muda itu meresponnya dengan sangat positif. Akhirnya, dijalinlah sebuah kerja sama antara Pesantren Darul Qur’an milik Yusuf Mansur dengan pesantren Darul Qur’an milik ibu-ibu pengajian tersebut. Ponpes Darul Qur’an Yusuf Mansur menangani masalah manajemen dan sistem pendidikan, sedangkan Ponpes Darul Qur’an Cariu mengelola masalah biaya operasional dan pengembangannya.
Maka dibangunlah sebuah Pesantren Darul Qur’an Al-Jannah Darussalam di Perum Kp. Tegal Salam Blok 02 Rt. 22/07, Kel. Cariu, Kec. Cariu, Kab. Bogor, Jabar. Setelah itu, Pesantren Darul Qur’an Yusuf Mansur mengirim tenaga pengajarnya ke Pesantren Cariu ini dan begitu seterusnya. Artinya, selama Pesantren Cariu ini belum menuju kemandiriannya, baik SDM atau yang lainnya, pesantren ini terus mendapatkan binaan dari Pesantren Darul Qur’an milik Yusuf Manshur.
Kenapa harus pesantren tahfidz? Menurut Asep Supriatna (34 th), Sekretaris Pesantren, sebab al-Qur’an adalah akar kehidupan umat manusia (Islam) di dunia ini. Ketika akar ini kuat, maka yang lainnya pun ikut kuat. “Dengan semangat menghafal dan menghayati al-Qur’an, maka itu akan bisa merubah akhlak kita dan bagus juga buat perkembangan Islam,” ujarnya.
Hingga sekarang, Pesantren Cariu ini usianya belum genap dua tahun. Masih muda memang, tapi antusiasme anak-anak untuk belajar di sana ternyata sangat tinggi. Tahun pertama saja, anak-anak yang mendaftar sudah ratusan orang, tapi diseleksi menjadi 13 orang. Tujuan seleksi adalah agar bisa menemukan anak didik yang benar-benar serius untuk belajar al-Qur’an, tidak sekedar main-main. Sebab, sistem pendidikan (termasuk biaya hidup selama di pesantren) semuanya gratis.
Lalu, tahun kedua ada tambahan 14 anak. Mereka tetap merupakan anak-anak pilihan karena melalui seleksi yang cukup ketat. Mereka adalah lulusan-lulusan SD yang punya gairah tinggi untuk belajar al-Qur’an. Sehingga ketika mereka masuk ke pesantren Cariu ini, mereka tidak saja belajar ilmu agama, khususnya tahfidz al-Qur’an, tapi juga belajar ilmu umum di MTs –untuk kurikulumnya masih menginduk ke MTs Al-Nur Cariu.
Khusus untuk program tahfidz al-Qur’an, setiap anak diberikan target agar bisa menghafal al-Qur’an minimal 3 juz dalam waktu setahun. Jika tidak memenuhi target akan diberikan hukuman administratif. “Sekarang, kalau mereka melanggar baru dicukur kepalanya sampai caper atau botak,” ujar Asep. Sementara bagi yang memenuhi atau melebihi target akan diberikan reward berupa buku pelajaran dan sebagainya.
Misalnya saja Maulana Fahmi (13 th). Anak kelas dua MTs dan baru berada di pesantren selama 1,5 tahun ini, dia sudah menghafal 6 juz. Berarti, dia telah melampaui target. Artinya, kata Asep, ada sebagian anak yang mencapai atau melampaui terget, tapi ada juga yang gagal memenuhinya. “Jadi, seimbang,” ujarnya.
Pesantren Darul Qur’an Cariu berdiri di atas tanah 1000 m. Tanah sebelah kanan-kirinya masih kosong dan berbentuk kebun, jadi ada rencana untuk membelinya sebagai perluasan pesantren. “Dari pesantren sudah ada rencana, tinggal menunggu keikhlasan sang pemilik untuk menjualnya,” ujar Asep. Sebab, Pesantren yang kini dikelola oleh Ustadz Abdurrahman ini punya rencana besar ke depan untuk mencetak kader-kader penghafal al-Qur’an yang handal berkaliber internasional. Karena itu, sejak dini mereka harus sudah dilatih.
Selain itu, ke depan, anak-anak didik juga tidak saja diajarkan melulu tentang hafalan al-Qur’an, tapi juga ilmu-ilmu agama lainnya layaknya di pesantren, seperti ilmu tauhid, akhlak, fikih, bahasa Arab dan sebagainya. “Bahkan, ke depan, kami juga punya rencana untuk membangun pesantren wirausaha juga di sini,” ujar Asep yang juga lulusan Gontor tersebut. Sehingga, ujarnya, anak lulusannya nanti sudah siap secara mental dan mandiri ketika turun ke masyarakat.
Bagaimana dengan orang tua yang memiliki anak perempuan? Menurut Asep, untuk sementara Pesantren Darul Qur’an Cariu baru bisa menerima santri putra karena SDM dan sarananya masih terbatas. “Nanti, mungkin kalau sudah berkembang dan maju, akan menerima santri putri pula,” ujar lelaki yang sudah punya dua anak tersebut. “Jadi, doakan saja agar Pesantren Darul Qur’an ini cepat berkembang, sehingga santri putri pun bisa diterima di sini,” ujarnya lebih lanjut.

(Box)
Maulana Fahmi (13 th),
“Tertarik Karena Melihat Ustadz Yusuf Mansur di TV

“Saya pernah melihat Ustadz Yusuf Mansur di TV. Saat itu beliau bicara kalau anak-anak didiknya di pesantren Darul Qur’an semuanya gratis. Oleh bapak saya akhirnya dimasukkan ke sana dan ikut seleksi juga. Setelah lulus, saya dibawa ke Pesantren Darul Qur’an Cariu ini.”








Ponpes Al-Baqiyatussholihat Cibarusah, Bekasi, "SETIA DENGAN TRADISI KITAB KUNING"


“Di tengah arus globalisasi dan semakin maraknya pesantren modern, pesantren ini justru masih sangat setia dengan tradisi salafiyah, yaitu memakai dan menggunakan rujukan kitab kuning dalam belajar dan mengajar mereka.”

            Ya, inilah kondisi real yang terjadi di Pesantren Al-Baqiyatussholihat Cibogo, Cibarusah, Bekasi. Mereka masih setia dengan konsep yang ditawarkan oleh Walisongo dulu. Namun, bukan berarti sistem pelajaran yang diberlakukan di sini full-salafiyah semata. Mereka tetap mengadopsi pengetahuan-pengetahuan modern yang dianggap pantas. Hanya saja, kitab rujukan utama mereka tetap kitab kuning.
Mereka menganut kaidah fikiyah, Al-Muhafadzah ‘ala Qadiimi al-Shalih wa al-Akhdu bi al-Jadiid al-Ashlah (memelihara konsep lama yang baik sambil menggali konsep baru yang lebih baik tanpa menghilangkan konsep lama).
Sebagai salah satu pesantren tua di Bekasi, Pesantren Al-Baqiyatussholihat memiliki sejarah yang sangat panjang. Menurut KH.R. Jamaluddin Nawawi (38 th), pesantren ini berdiri karena kondisi sosial masyarakat saat itu (pra kemerdekaan), yang seakan-akan ingin membangun dirinya lewat ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, eksistensi pesantren sangat dibutuhkan karena kondisi sosial masyarakat yang miskin ilmu pengetahuan dan pegangan hidup.
Maka sebagai orang yang berilmu dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan Islam, KH. Raden Anwar yang pernah menjadi murid KH. Hasyim Asy’ari ini, mengutus anaknya yang bernama Raden Ma’mun Nawawi untuk belajar agama di pesantren. Maka satu-persatu pesantren disambangi untuk digali ilmunya, mulai dari Pesantren KH. Hasyim Asy’ari di Jawa Timur, Pesantren Syekh Ihsan Jampes (Pengarang Kitab Siraj al-Thalibin) di Kediri, hingga Pesantren Tugabus Bakri bin Seda (Mama Sempur) di Plered, Sempur, Bandung. “Saking pinternya, ayah saya yakni Raden Ma’mun Nawawi  diangkat mantu oleh Kiayi Tubagus saat itu,” ujar KH. R. Jamaluddin Nawawi, yang tidak lain merupakan putra KH.R.Ma’mun Nawawi dan pengelola pesantren sekarang.
Nyantri Raden Ma’mun Nawawi tidak berhenti sampai di situ. Setelah itu, beliau belajar lagi ke Pesantren Syekh Mansyur (pengarang Sulam al-Nairen) di Jembatan Lima, Jakarta. Kitab Sulam al-Nairen berisi tentang ilmu falak. Oleh Raden Ma’mun Nawawi kitab ini mampu dipelajari dan dikuasainya selama 40 hari saja. “Beliau memang cerdas orangnya,” ujar KH.R.Jamaluddin. Bahkan, menurutnya, saking cerdasnya, dalam usia 19 tahun, sang ayah sudah menghafal 30 juz al-Qur’an. Dari Jembatan Lima, Raden Ma’mun Nawawi belajar ke Makkah al-Mukarramah, untuk berguru kepada orang-orang yang pintar di sana.
            Setelah dianggap bisa dan memadai beradaptasi untuk mengembangkan dakwah Islamiyah, Raden Ma’mun Nawawi diminta oleh mertuanya, Tubagus Bakri untuk mendirikan pesantren di Pandeglang, Banten. Namun, sekitar dua tahun kemudian, beliau diminta oleh ayahnya, KH.Raden Anwar untuk kembali ke habitatnya di Cibogo, Cibarusah, untuk mendirikan pesantren. Atas biaya sang ayah, maka berdirilah Pesantren Al-Baqiyatussholihat pada tahun 1938. Seluruh santri di Pesantren Pandeglang ikut gabung ke Pesantren Al-Baqiyatussholihat ini. “Jadi, pada tahun pertama hampir sebagian besar santri di sini didominiasi oleh orang-orang Banten,” ujar KH. Jamaluddin.
Pada masa keemasannya, pesantren ini pernah menampung sekitar 1000 santri dalam satu angkatan. Bahkan, pesantren ini sempat terkenal sebagai Pesantren Ilmu Falak (Hisab). Ketika berbicara masalah pesantren ini, maka yang muncul adalah Pesantren Ilmu Falak. Karena itu, ketika pemerintah Bekasi, Bogor, Jakarta dan sekitarnya membutuhkan masalah perhitungan falakiyah, selalu merujuk ke pesantren ini. Sekarang masalah falakiyah juga masih diajarkan di sini. KH. Jamaluddin lalu menunjukkan contoh almanak berdasarkan perhitungan falakiyah yang masih menggunakan oret-oretan tangan. “Dari dulu hingga sekarang, modelnya ya kaya gini,” ujarnya.
Kini, di usianya yang sudah 73 tahun, pesantren yang berdiri di atas tanah 2995 m2 ini masih tetap eksis dan setia dengan tradisi lamanya, yaitu mengajarkan kitab kuning kepada para santri putra dan putrinya, baik ilmu alat (nahwu, sharaf, balaghah), ilmu faraidh (waris), ilmu fikih, falak (hisab), tauhid dan sebagainya. Salah satu santrinya yang berkali-kali tampil di televisi adalah KH. Yahya Anshori di Kalideres. Bekas santri lainnya yang masih eksis adalah Kiayi Utsman di Citeureup dan sebagainya.
KH.R.Ma’mun Nawawi meninggal dalam usia 63 tahun (1912-1975). Selama hidupnya beliau pernah menulis nadzaman ilmu falak sebanyak 63 bait dan menghasilkan setidaknya 63 kitab. “Angka-angka ini seperti kebetulan saja,” ujar KH.R. Jamaluddin yang merupakan keturunan ke-11 dari Maulana Hasanuddin dan ke-24 dari Rasulullah ini. Sebagian kitabnya dijual di Toko Arafat Bogor, seperti  Kasyful Gumum wal Gumum (tentang doa), Hikayatul Mutaqaddimin (tentang kisah-kisah ulama dahulu), Idho’ul Mubhamat (tentang rumus-rumus akumulasi dari kitab-kitab yg mengandung akronim) dan sebagainya.
Makam KH.R.Ma’mun Nawawi berada di sekitar pesantren dan seringkali dikunjungi orang baik dari Banten atau Bogor, khususnya pada bulan Maulid. Pada masa hidupnya beliau pernah berjuang bersama KH. Nur Ali (Pahlawan Nasional) dalam gerakan Hizbullah. “Kalau KH. Nur Ali bidang militansinya, sedang ayah bidang Bintal (Pembinaan Mental)-nya,” ujar KH.R.Jamaluddin Nawawi. Dan atas jasanya tersebut, nama beliau dijadikan nama jalan.
Dalam akhir wawancaranya, KH.R.Jamaluddin berpesan agar kita sebagai umat Islam punya kepedulian yang tinggi terhadap eksistensi pesantren. Sebab, wadah inilah yang telah teruji selama ratusan tahun sebagai soko guru pembinaan ilmu dan moralitas bangsa. Salah satu caranya adalah agar orang tua berkenan memasukkan anak-anaknya ke pesantren untuk diajarkan ilmu agama.

Eep Khunaefi/Dimuat di Hidayah edisi 113